Pikap India Banjiri RI: Proyek Desa Untung, Lokal Buntung?

wartakini.id – Gelombang polemik menyelimuti keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara (APN) untuk mendatangkan 35.000 unit pikap Mahindra Scorpio Single Cab secara utuh dari India. Langkah masif ini, yang akan memperkuat logistik Proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sontak memicu pertanyaan serius mengenai komitmen terhadap industri otomotif lokal di tengah rekor ekspor terbesar sepanjang sejarah Mahindra & Mahindra Ltd.

mahindra menang banyak di indonesia menakar urgensi mobil impor india untuk koperasi desa iyi
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Puluhan ribu unit Mahindra Scorpio Pikup Single Cab dijadwalkan akan dikapalkan dari pabrik Nashik, India, menuju Indonesia. Kesepakatan ini bukan hanya menjadi ekspor terbesar dalam sejarah manufaktur Mahindra, melainkan juga secara volume melampaui total ekspor global perusahaan tersebut sepanjang tahun fiskal 2025. Sebuah angka yang fantastis, namun sekaligus mengundang kontroversi sengit di kalangan publik dan pemerhati industri di Tanah Air.

Di tengah gencar-gencarnya kampanye peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk produk-produk dalam negeri, kebijakan impor skala raksasa ini justru dianggap anomali. Banyak pihak mempertanyakan urgensi dan efisiensi di balik keputusan mendatangkan kendaraan niaga dari luar negeri, ketimbang memberdayakan kapasitas perakitan atau produksi lokal yang sebenarnya ada. Skeptisisme pun mencuat mengenai keberpihakan pemerintah pada industri otomotif lokal yang tengah berupaya bangkit.

Secara logika pasar, masuknya ribuan unit kendaraan niaga dari luar negeri dalam satu skema proyek negara menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai strategi industri nasional. Mengapa pilihan impor utuh (CBU) menjadi prioritas, padahal potensi perakitan atau bahkan produksi komponen di dalam negeri bisa menjadi stimulan ekonomi yang signifikan?

Dari sisi produsen, CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, dalam pernyataan resminya dari Mumbai pada 4 Februari 2026, menegaskan bahwa kemitraan strategis ini merupakan pilar krusial bagi transformasi ketahanan pangan Indonesia. Ia kemungkinan melihat proyek ini sebagai jembatan penting untuk mendukung infrastruktur logistik di pedesaan, memastikan distribusi pangan yang lebih merata.

Meskipun pemilihan varian Single-Cab Scorpio Pik Up diklaim didasarkan pada kebutuhan akan kendaraan yang tangguh, efisien, dan mampu beroperasi optimal di medan berat pedesaan dengan biaya operasional minimal, argumen ini pun tak luput dari sorotan. Sejumlah pengamat berpendapat, alternatif kendaraan sejenis dengan kandungan lokal yang lebih tinggi seharusnya bisa menjadi prioritas, bukan hanya untuk efisiensi operasional, tetapi juga untuk dampak ekonomi jangka panjang.

Polemik ini menyoroti dilema antara kebutuhan mendesak untuk proyek nasional dan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan industri dalam negeri. Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah, apakah mega impor ini benar-benar solusi terbaik untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, atau justru menjadi pukulan telak bagi cita-cita kemandirian industri otomotif Indonesia?


Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar