Rupiah Terpuruk! Bayang-bayang Konflik Iran-AS Guncang Pasar, China Jadi Penyeimbang?

Rupiah Terpuruk! Bayang-bayang Konflik Iran-AS Guncang Pasar, China Jadi Penyeimbang?

Wartakini.id – Jakarta, Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), menutup perdagangan Kamis (5/2/2026) dengan anjlok 65 poin atau setara 0,39 persen, mencapai level Rp16.842 per dolar AS. Kondisi ini tak lepas dari bayang-bayang ketegangan geopolitik global yang terus memanas, meskipun ada secercah harapan dari hubungan AS-China.

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap mata uang Garuda ini sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal. Ibrahim menyoroti laporan awal media yang mengindikasikan kemungkinan kegagalan pembicaraan penting antara Amerika Serikat dan Iran yang sedianya dijadwalkan pada hari Jumat.

Rupiah Terpuruk! Bayang-bayang Konflik Iran-AS Guncang Pasar, China Jadi Penyeimbang?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Meski demikian, Ibrahim melanjutkan dalam risetnya, kekhawatiran sempat mereda setelah pejabat dari kedua negara mengonfirmasi bahwa pembicaraan akan tetap dilangsungkan pada hari Jumat. Namun, kendala krusial muncul karena kedua belah pihak masih berselisih tajam mengenai agenda pembahasan. Iran menyatakan kesiapannya untuk mendiskusikan program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat. Di sisi lain, AS memiliki tuntutan yang lebih luas, mencakup program rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di Timur Tengah, hingga isu hak asasi manusia di dalam negeri Iran.

Terlepas dari kesepakatan untuk berdialog, bayang-bayang ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran masih menghantui. Potensi konfrontasi militer di kawasan kaya minyak ini dikhawatirkan akan memicu gejolak pasar yang lebih besar. Tidak hanya ancaman terhadap produksi minyak Iran, namun juga potensi terganggunya ekspor dari produsen-produsen Teluk lainnya, yang secara langsung dapat memicu lonjakan harga minyak global dan memperburuk inflasi.

Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, sentimen positif datang dari hubungan AS-China. Percakapan telepon antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dilaporkan berlangsung sangat baik, berhasil meredakan ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.

Trump bahkan mengumumkan rencana kunjungannya ke China pada bulan April mendatang. Dalam dialog tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis, termasuk perdagangan, kerja sama militer, status Taiwan, konflik Rusia-Ukraina, situasi di Iran, serta komitmen China untuk pembelian minyak dan gas dari AS. Interaksi positif ini setidaknya memberikan sedikit penyeimbang di tengah gejolak geopolitik yang mengancam stabilitas ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar