Rupiah Anjlok Drastis! Dolar AS Menggila, Ini Biang Keroknya!

Rupiah Anjlok Drastis! Dolar AS Menggila, Ini Biang Keroknya!

Wartawan Wartakini.id – Jakarta, 19 Februari 2026 – wartakini.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis ini. Mata uang Garuda melemah 10 poin atau sekitar 0,06 persen, parkir di level Rp16.894 per dolar AS. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik global hingga ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa risiko geopolitik global menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Situasi di Timur Tengah, khususnya terkait Iran, kembali memanas dan menjadi fokus investor global. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa Iran belum sepenuhnya memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan, meskipun Teheran telah diberikan waktu tambahan dua minggu untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Rupiah Anjlok Drastis! Dolar AS Menggila, Ini Biang Keroknya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Lebih lanjut, Ibrahim dalam risetnya menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika upaya diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran. Laporan media mengenai peningkatan aktivitas militer dan angkatan laut di Teluk Persia kian memperkuat persepsi pasar tentang kerentanan pasokan global. Selain itu, minimnya kemajuan dalam upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina juga menambah daftar risiko keamanan yang lebih luas, sekaligus memudarkan harapan akan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia.

Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) AS juga turut membebani pergerakan rupiah. Risalah dari pertemuan kebijakan terbaru The Fed menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai urgensi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Meskipun secara umum mereka sepakat bahwa risiko inflasi tetap cenderung ke atas, namun ada perbedaan pendapat mengenai seberapa ketat kebijakan yang harus diterapkan dan berapa lama suku bunga perlu dipertahankan pada level tinggi.

Akibatnya, pelaku pasar mulai merevisi ekspektasi mereka terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun peluang penurunan pada bulan Juni masih ada. Fokus investor kini beralih ke data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, dan diharapkan dapat memberikan petunjuk arah yang lebih jelas mengenai kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar