wartakini.id – TEHERAN – Menyusul manuver militer skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, sorotan utama tertuju pada sistem pertahanan udara jarak jauh S-300PMU-2 yang menjadi benteng pelindung Ibu Kota Teheran. Sistem rudal buatan Rusia ini, bersama dengan sistem domestik seperti Bavar-373 dan Khordad-15, dipandang sebagai perisai strategis vital Iran yang selama bertahun-tahun telah menjadi fokus persiapan Washington dan Tel Aviv untuk dilawan.

Related Post
S-300PMU-2, yang dijuluki "Favorit," merupakan salah satu aset pertahanan paling canggih Iran. Namun, jauh sebelum versi mutakhir ini dikerahkan, Barat telah menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk mengurai seluk-beluk teknologi S-300.

Pasca-runtuhnya Pakta Warsawa, AS dan negara-negara NATO memperoleh kesempatan langka untuk mengakses sejumlah varian awal S-300 dari negara-negara Eropa Timur. Ukraina, yang mewarisi persediaan S-300 dalam jumlah besar, diduga kuat telah mentransfer beberapa sistem S-300PS/PT untuk dipelajari secara mendalam oleh negara-negara Barat. Studi ini memberikan pemahaman krusial mengenai struktur radar, prosedur komando dan kendali, serta keterbatasan operasional dari sistem pertahanan udara buatan Rusia tersebut, meskipun varian yang dipelajari masih di bawah kualitas seri S-300PM yang diperkenalkan pada tahun 1992.
Momen krusial terjadi ketika Yunani menerima sistem S-300PMU-1, yang awalnya ditujukan untuk Siprus. Athena memberikan izin kepada NATO dan Israel untuk melaksanakan berbagai misi serangan simulasi terhadap target yang dilindungi oleh S-300. Inisiatif ini terbukti sangat berharga, memungkinkan pasukan Barat untuk membiasakan diri dengan spektrum frekuensi radar, menguji kapabilitas peperangan elektronik (EW), dan menyempurnakan strategi penindasan pertahanan udara (SEAD).
Upaya pengumpulan intelijen ini terus berlanjut hingga kini. Sejak tahun 2022, Angkatan Udara AS telah mengerahkan jet tempur F-35A untuk beroperasi di dekat medan perang Ukraina. Misi mereka adalah mengumpulkan sinyal elektronik dari sistem pertahanan udara Rusia, termasuk varian S-300 yang lebih baru, sebagai bagian dari strategi berkelanjutan untuk memahami dan menghadapi ancaman pertahanan udara modern.








Tinggalkan komentar