wartakini.id – Raksasa otomotif Jepang, Honda Motor Co., di ambang jurang kerugian tahunan perdana dalam tujuh dekade sejarahnya sebagai perusahaan publik. Badai finansial ini datang setelah perusahaan dipaksa menanggung beban penurunan nilai aset (impairment charge) yang fantastis, mencapai 2,5 triliun Yen atau setara Rp266,9 triliun.

Related Post
Pemicu utama krisis ini adalah strategi agresif Honda dalam mengejar pasar kendaraan listrik (EV) yang kemudian berbalik arah secara drastis. Setelah mengucurkan investasi besar, sejumlah proyek EV yang hampir siap diluncurkan justru dibatalkan, memicu kerugian besar yang tak terhindarkan.

Situasi ini menyoroti keterlambatan pabrikan Jepang dalam merespons revolusi EV global. Ketika pemain seperti Tesla dan raksasa Tiongkok BYD sudah melaju kencang dengan inovasi perangkat lunak dan model-model baru, Honda dan beberapa kompetitornya masih tertatih-tatih mencari pijakan.
Sebelumnya, Chief Executive Officer Toshihiro Mibe sempat memasang target ambisius, yakni 40 persen penjualan Honda pada tahun 2030 berasal dari kendaraan listrik. Namun, target tersebut kini direvisi drastis menjadi hanya 20 persen. Pembatalan mencakup dua model kunci dari seri 0 EV mereka, serta Acura RSX listrik yang sedianya debut di Amerika Serikat tahun depan. Seluruh strategi EV kini sedang dirombak ulang.
Namun, persoalan Honda tidak hanya berkutat pada sektor kendaraan listrik. Bisnis inti mereka, yakni kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) atau mobil bensin, juga menunjukkan tanda-tanda kelemahan serius. Divisi otomotif Honda telah mencatat kerugian selama empat kuartal berturut-turut, sebuah periode paceklik terpanjang sejak bencana tsunami Fukushima lima belas tahun silam.
Di pasar terbesar mereka, Amerika Serikat, penjualan tahun lalu hanya mampu tumbuh tipis 0,5 persen, sebuah indikator yang mengkhawatirkan bagi raksasa yang pernah mendominasi. Dengan beban finansial yang menumpuk dan strategi yang terus bergejolak, Honda kini menghadapi tantangan terberat dalam sejarah panjangnya, berjuang untuk menemukan kembali momentum di tengah lanskap industri otomotif yang berubah cepat.










Tinggalkan komentar