wartakini.id – Sebuah fenomena mengejutkan tengah terjadi di pasar otomotif Eropa. Merek-merek kendaraan asal Tiongkok kini merajai sepertiga dari seluruh transaksi kendaraan plug-in hybrid atau PHEV baru. Pencapaian ini menandai rekor tertinggi yang pernah tercatat di kawasan tersebut pada Juni 2026.
Baca Juga
Data terbaru dari perusahaan riset pasar Dataforce, yang dikutip oleh Business Times Singapura, mengungkapkan bahwa produsen raksasa seperti BYD dan Chery berhasil menguasai 34 persen dari total pengiriman PHEV baru di Eropa bulan lalu. Angka ini kontras dengan pangsa pasar mereka di segmen kendaraan listrik (EV) dan hybrid non-plug-in yang relatif stabil selama periode yang sama.

Peningkatan drastis dalam distribusi PHEV ini bukan tanpa alasan. Menurut analis Dataforce Julian Litzinger, lonjakan ini merupakan bagian dari strategi cerdik produsen Tiongkok untuk menggenjot penetrasi pasar. Mereka berupaya mempercepat ekspansi sebelum Uni Eropa (UE) berpotensi memberlakukan bea masuk tambahan pada kategori kendaraan ini.
Saat ini, hanya kendaraan listrik murni buatan Tiongkok yang dikenai tarif tinggi oleh UE. Namun, laporan dari surat kabar Jerman Handelsblatt mengindikasikan bahwa PHEV juga dapat menjadi target pungutan baru di masa mendatang, meskipun belum ada pengumuman resmi dari pihak Uni Eropa.
Litzinger menambahkan, pabrikan Tiongkok terlihat memanfaatkan momentum ini untuk memperkokoh posisi pasar mereka dan memperlebar jejaring distribusi dealer secara agresif. Tujuannya jelas, membangun fondasi yang kuat sebelum potensi tarif baru diberlakukan. Ia meyakini, ketika tarif tersebut akhirnya diterapkan, cengkeraman merek-merek Tiongkok di Eropa mungkin sudah terlampau kuat. Kondisi ini akan membuat mereka sulit digoyahkan tanpa menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian lokal.





































