wartakini.id – Sebuah insiden viral di jagat maya baru-baru ini sukses menyita perhatian. Seorang pengendara mobil listrik bergegas memarkir kendaraannya di sebuah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum SPKLU yang kosong. Namun, tak lama kemudian, sebuah ketukan di kaca jendela membuyarkan ketenangannya. "Saya sudah antre dua jam," ujar seseorang, tanpa mobilnya terlihat di lokasi. Ternyata, kendaraan tersebut masih berada di lantai atas, menunggu giliran untuk turun.
Baca Juga
Fenomena ini bukan sekadar insiden sepele. Ini adalah potret nyata dari jurang lebar antara pertumbuhan pesat kendaraan listrik dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya di Indonesia. Keresahan lama mengantre bahan bakar kini berganti wajah baru: berburu slot pengisian daya kendaraan listrik. Jika di SPBU kita mengantre dengan kendaraan, kini di SPKLU, "antrean badan" menjadi pemandangan yang tak asing.

Data berbicara. Menjelang akhir 2025, PT PLN bersama para mitranya diproyeksikan mengoperasikan sekitar 4.655 unit SPKLU di lebih dari tiga ribu lokasi se-Indonesia, sebuah peningkatan signifikan 44 persen dari tahun sebelumnya. Namun, data per Februari 2026 menunjukkan populasi kendaraan listrik roda empat telah mencapai angka fantastis 119.000 unit. Artinya, secara nasional, satu unit SPKLU harus melayani sekitar 29 mobil listrik. Angka ini jauh dari ideal.
Para pakar industri seperti Gaikindo merekomendasikan rasio ideal 1:10, sementara konsumen menginginkan 1:5. Bahkan target pemerintah yang sudah direvisi turun ke 1:17 pun masih belum tercapai. PLN sendiri menargetkan 5.810 SPKLU pada 2025 untuk memenuhi rasio tersebut, namun realisasinya meleset lebih dari 1.150 unit, hanya mencapai 4.655 unit.
Kondisi paling memprihatinkan terjadi di ibu kota. Jakarta mencatat rasio SPKLU terburuk, yakni 1:47, yang berarti satu titik pengisian daya harus melayani 47 mobil listrik. Bandingkan dengan Banten yang 1:27 atau Jawa Barat yang 1:18. Distribusi infrastruktur ini juga sangat tidak merata. Per Maret 2026, hampir 74 persen atau 3.629 dari total 4.911 SPKLU nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara Sumatera hanya memiliki 555 unit, Bali-Nusa 283 unit, Kalimantan 226 unit, Sulawesi 162 unit, dan Papua-Maluku hanya 56 unit. Ironisnya, Jakarta sebagai pusat pengguna EV terbesar justru menghadapi kelangkaan paling parah.
Masalah tidak berhenti pada jumlah, tetapi juga pada kecepatan pengisian. Dari total 4.655 SPKLU yang ada, komposisi teknologinya belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pengguna. Unit Ultra Fast Charging (di atas 50 kW) baru tersedia 633 unit, dan Fast Charging 482 unit. Mayoritas justru didominasi Medium Charging (7-22 kW) sebanyak 2.681 unit, serta Standard Charging (di bawah 7 kW) sebanyak 859 unit. Ini berarti, selain antrean panjang, pengguna juga harus bersabar lebih lama untuk mengisi penuh daya kendaraan mereka.





































