wartakini.id – Mata uang Garuda tak berdaya menghadapi dominasi dolar Amerika Serikat menutup perdagangan hari ini dengan penurunan signifikan. Rupiah ambruk 35 poin atau setara 0,20 persen memposisikan diri di angka Rp17.917 per dolar AS. Apa sebenarnya yang memicu pelemahan drastis ini hingga menyentuh level kritis tersebut
Baca Juga
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi tekanan terhadap Rupiah tidak lepas dari dinamika global dan gejolak domestik. Salah satu pemicu utama datang dari Timur Tengah di mana pemerintah Yaman yang diakui dunia dan didukung Arab Saudi bersiap melancarkan serangan militer besar-besaran. Tujuannya jelas merebut kembali wilayah strategis dari kelompok pemberontak Houthi.

Sebelumnya kelompok Houthi yang disokong Iran telah melancarkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak ke fasilitas vital Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais. Serangan ini diklaim sebagai balasan atas gempuran udara yang dipimpin Arab Saudi di Yaman. Meski Arab Saudi belum mengonfirmasi insiden tersebut kekhawatiran global terhadap pasokan minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia ini langsung mencuat.
Tidak hanya Timur Tengah panggung politik Amerika Serikat juga memanas. Presiden Donald Trump dalam sebuah rapat umum di Ohio melontarkan kritik pedas terhadap Partai Demokrat. Ia menjanjikan bantuan finansial besar jika Partai Republik memenangkan pemilihan paruh waktu sekaligus mengancam akan enggan bekerja sama dengan negara bagian yang dikuasai Demokrat. Ketidakpastian politik di negara adidaya ini turut menambah sentimen negatif bagi pasar keuangan global.
Pekan ini pasar juga akan memantau ketat sejumlah data ekonomi penting dari AS. Agenda tersebut meliputi laporan ISM Services PMI data ketenagakerjaan mingguan rilis risalah rapat Federal Open Market Committee FOMC terbaru serta indeks sentimen konsumen dari University of Michigan. Semua data ini berpotensi menggerakkan nilai tukar dolar AS.
Dari dalam negeri Indonesia menghadapi tantangan serius terkait pasokan energi. Sejak konflik di Timur Tengah memanas Indonesia telah kehilangan seperempat sumber impor bahan bakar minyaknya. Situasi ini memaksa pemerintah untuk bergerak cepat mencari alternatif pasokan guna menjamin ketersediaan BBM nasional.
Pemerintah bersama Pertamina kini gencar melakukan pencarian langsung atau ‘hunting’ ke negara-negara yang memiliki surplus stok BBM. Mekanisme pengadaan BBM yang sebelumnya melalui lelang kini terkendala minimnya peserta. Strategi pembelian langsung ini meski berpotensi mendatangkan BBM dengan harga lebih tinggi menjadi langkah krusial demi menjaga ketahanan pasokan di tengah ketidakpastian global. Langkah ini penting untuk memastikan roda ekonomi tetap berjalan tanpa hambatan pasokan energi.





































