wartakini.id – Fenomena penggunaan perangkat berbasis baterai lithium-ion yang kian masif ternyata menyimpan ancaman tersembunyi yang sangat fatal. Meski teknologi ini menjadi jantung dari kemajuan gadget hingga kendaraan listrik, risiko kebakaran dan ledakan justru menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia.
Baca Juga
Pemicu utamanya bisa datang dari mana saja, mulai dari cacat produksi yang tidak terdeteksi, suhu perangkat yang terlalu panas, hingga benturan fisik yang merusak struktur internal. Kondisi tersebut dapat memicu korsleting listrik yang menyebabkan pelepasan panas tak terkendali. Akibatnya, gas bertekanan tinggi akan terbentuk secara instan dan memicu ledakan dahsyat dalam sekejap mata.

Data dari Institut Standar dan Teknologi Nasional AS mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai skala ancaman ini. Tercatat ada sekitar 198.000 kasus kebakaran baterai di area bangunan selama periode 2011 hingga 2023. Yang lebih mengkhawatirkan, angka kebakaran yang melibatkan kendaraan listrik melonjak tajam hingga 45 persen setiap tahunnya.
Situasi serupa juga dilaporkan oleh otoritas pemadam kebakaran di London. Mereka mengidentifikasi baterai lithium sebagai ancaman kebakaran yang paling cepat berkembang, dengan sepeda listrik dan mobil listrik sebagai pelaku utama dalam mayoritas insiden.
Bahaya ini tidak hanya mengintai di jalan raya, tetapi juga sangat dekat dengan kehidupan pribadi kita. Perangkat kecil seperti ponsel dan power bank bisa berubah menjadi bom waktu jika tidak digunakan dengan benar. Sebagai contoh nyata, sebuah insiden kebakaran akibat pengisian daya power bank di atas tempat tidur menjadi peringatan keras bagi masyarakat mengenai betapa cepatnya api menyebar dari perangkat elektronik kecil.





































