Alarm Perang Global: DPR Desak RI Segera Mandiri Energi!

Alarm Perang Global: DPR Desak RI Segera Mandiri Energi!

wartakini.id, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyoroti dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah, sebagai alarm penting bagi Indonesia. Situasi ini mendesak negara untuk segera mewujudkan kemandirian energi dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam domestik yang melimpah.

Sugeng Suparwoto, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, menegaskan bahwa elektrifikasi, baik pada sektor transportasi maupun rumah tangga, merupakan pilar krusial dalam strategi transisi energi nasional. Langkah ini, menurutnya, sangat vital untuk menjaga ketahanan sektor ketenagalistrikan di tengah ancaman ketidakstabilan pasokan dan fluktuasi harga energi global. "Terutama ketenagalistrikan di tengah risiko stabilitas pasokan dan harga energi dunia," ujar Sugeng, seperti dikutip wartakini.id pada Sabtu (4/4/2026).

Alarm Perang Global: DPR Desak RI Segera Mandiri Energi!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Lebih lanjut, Sugeng menjelaskan bahwa program elektrifikasi kendaraan adalah inisiatif strategis untuk menggeser ketergantungan sektor transportasi dari bahan bakar fosil menuju energi listrik. Ia menambahkan, "Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, konsumsi energi dapat lebih bertumpu pada sistem kelistrikan nasional yang bersumber dari dalam negeri."

Data menunjukkan tren peningkatan subsidi energi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2020, subsidi tercatat sebesar Rp95,7 triliun, melonjak menjadi Rp159,6 triliun pada 2023, dan kembali naik drastis hingga Rp203,4 triliun pada 2024. Mayoritas subsidi ini dialokasikan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Proyeksi anggaran subsidi bahkan lebih mencengangkan. Untuk tahun 2025, total anggaran diperkirakan mencapai Rp394,3 triliun, dan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, direncanakan sebesar Rp210,06 triliun. Porsi terbesar dari angka-angka fantastis ini tetap diperuntukkan bagi BBM dan LPG. Menanggapi hal ini, Sugeng juga mendesak pemerintah untuk mendorong program konversi kompor gas ke kompor listrik di kalangan rumah tangga.

"Penggunaan kompor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia luas di berbagai daerah," pungkas Sugeng, menekankan potensi penghematan dan optimalisasi infrastruktur kelistrikan nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar