wartakini.id – Seoul, Korea Selatan – Ancaman kenaikan harga minyak mentah global, dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, telah mendorong Korea Selatan untuk mempertimbangkan langkah drastis: pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara nasional. Menteri Keuangan Koo Yun-cheol menyatakan pada 30 Maret bahwa pembatasan berkendara bisa diperluas ke sektor swasta jika harga minyak mencapai USD120-130 per barel.

Related Post
Jika skenario ini terwujud, ini akan menjadi kali pertama Korea Selatan menerapkan pembatasan berkendara secara luas sejak era Perang Teluk, ketika negara itu memberlakukan sistem rotasi kendaraan 10 hari demi menghemat energi. Berbicara dalam sebuah program televisi, Koo Yun-cheol juga menambahkan bahwa jika situasi di Timur Tengah terus memburuk, tingkat kewaspadaan krisis energi bisa dinaikkan ke "siaga" – level tertinggi ketiga dari empat tingkat – yang berarti kontrol konsumsi akan lebih ketat.

Selain itu, pemerintah Korea Selatan juga sedang mempertimbangkan pengurangan pajak bahan bakar lebih lanjut guna meringankan beban biaya yang membebani warga. Namun, Kementerian Keuangan dalam pernyataan yang dirilis pada hari yang sama menegaskan bahwa penerapan wajib pembatasan mengemudi untuk sektor swasta belum diputuskan. Pihak berwenang akan melakukan penilaian lebih lanjut berdasarkan kondisi pasokan energi dan faktor makroekonomi yang berlaku.
Ketergantungan Korea Selatan yang sangat tinggi pada impor minyak dari Timur Tengah, yang mencakup sekitar 70% dari total pasokannya, menjadikan negara ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan di kawasan tersebut. Kondisi ini menempatkan Seoul dalam posisi yang sulit, memaksa mereka untuk menyiapkan berbagai skenario mitigasi demi menjaga stabilitas ekonomi dan energi nasional di tengah gejolak global.








Tinggalkan komentar