wartakini.id – Jakarta, 2 Maret 2026 – Ancaman krisis ekonomi membayangi Indonesia jika konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memanas. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, pada Senin (2/3) di Jakarta Selatan, mewanti-wanti potensi inflasi melonjak, nilai tukar Rupiah melemah drastis, hingga arus modal keluar atau capital outflow yang tak terhindarkan.

Related Post
Menurut Mari, lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik diprediksi akan memicu inflasi yang kian membesar di dalam negeri. Kondisi ini secara langsung akan memengaruhi stabilitas moneter dan menekan kekuatan Rupiah. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kenaikan inflasi akan menyulitkan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Mari juga menegaskan bahwa capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia menjadi skenario yang tak terhindarkan jika tensi geopolitik terus menajam. Para pemilik dana cenderung akan mencari tempat yang lebih aman untuk aset mereka di tengah ketidakpastian global.

"Kalau kita berpikir mengenai dampak harga minyak (akibat konflik), memang paling kelihatan nanti inflasi, dan kalau inflasi naik kan berarti suku bunga akan sulit untuk diturunkan," kata Mari dalam forum diskusi ekonomi tersebut, menggarisbawahi urgensi situasi.
Menyikapi potensi ancaman ini, Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya mitigasi risiko yang komprehensif dari ketegangan geopolitik global. Ia mendesak Kementerian Keuangan untuk menerapkan kebijakan fiskal yang disiplin guna menjaga fundamental ekonomi nasional tetap kokoh. Selain itu, stimulus ekonomi yang efektif juga harus terus didorong sebagai belanja fiskal yang mampu mengerek daya konsumsi masyarakat dan menjaga roda perekonomian tetap berputar.
Di ranah global, Mari menyarankan agar Indonesia segera melakukan diversifikasi pasar ekspor dan impor. Jika kawasan Timur Tengah terus bergejolak tanpa kepastian, maka peralihan pasar bisa menyasar kawasan lain seperti Eropa. Namun, ia juga mengingatkan untuk tidak melupakan potensi pasar di kawasan terdekat.
“Jangan lupakan ASEAN, jangan lupakan yang di depan mata kita, yaitu pasar di kawasan kita sendiri,” tegas Mari, seraya menambahkan bahwa perjanjian RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang melibatkan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pangsa pasar Indonesia. Langkah-langkah strategis ini diharapkan mampu membentengi ekonomi Indonesia dari gejolak global yang tak terduga.









Tinggalkan komentar