Wartakini.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap negosiasi tarif impor Amerika Serikat (AS) membuahkan hasil positif. Keberhasilan negosiasi ini krusial bagi pertumbuhan asuransi kargo laut (marine cargo) yang sangat bergantung pada dinamika ekspor-impor. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono, menyatakan pemerintah berupaya menjaga hubungan dagang kuat dengan AS sebagai mitra kerja. Upaya ini dilakukan melalui jalur negosiasi.

Related Post
Salah satu strategi pemerintah adalah meningkatkan volume impor komoditas dari AS, khususnya produk pertanian dan teknik. Pemerintah juga menawarkan insentif fiskal dan nonfiskal untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia ke AS dan mendorong impor dari AS. Ogi optimistis, stabilitas bahkan peningkatan volume perdagangan akan menopang pertumbuhan asuransi marine cargo. Ia memprediksi pertumbuhan sektor ini tetap positif tahun ini.

Di sisi lain, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menorehkan prestasi gemilang. Asuransi kargo mereka tumbuh 27,64%, seiring peningkatan aktivitas distribusi dan perdagangan nasional. Direktur Utama Jasindo, Andy Samuel, juga menyebutkan pertumbuhan positif pada berbagai lini bisnis lainnya, seperti asuransi engineering (15,29%), marine hull (20,63%), kendaraan (10,12%), energy offshore (51,96%), energy onshore (93,79%), dan liability (3,42%). Jasindo juga mencatatkan peningkatan pendapatan premi 21,65% (year-on-year/yoy) menjadi Rp4,02 triliun dan laba bersih melonjak 52,91% yoy menjadi Rp157,33 miliar pada 2024. Keberhasilan ini, menurut Andy, tak lepas dari strategi mitigasi risiko yang efektif dan penerapan prinsip kehati-hatian.
Namun, Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, mengingatkan potensi dampak negatif tarif impor AS terhadap industri asuransi, meskipun tidak langsung terasa. Ia menyebut tarif tersebut mengganggu stabilitas perdagangan internasional, berpotensi meningkatkan biaya, dan berdampak negatif pada ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, negosiasi yang menghasilkan penurunan bea masuk sangat penting, mengingat besarnya volume ekspor Indonesia ke AS. Gangguan rantai pasok, penurunan permintaan, dan dampak negatif pada sektor manufaktur menjadi risiko yang perlu diantisipasi.










Tinggalkan komentar