Pikap Impor Rp25 T: Industri Otomotif Lokal Dikhianati?

Pikap Impor Rp25 T: Industri Otomotif Lokal Dikhianati?

wartakini.id – Gelombang kritik tajam menyapu rencana pemerintah untuk mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga jenis pikap dalam bentuk utuh (Completely Built Up/CBU) dari India. Proyek senilai hampir Rp25 triliun yang dialokasikan untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ini dinilai sebagai anomali fatal yang berpotensi mematikan denyut nadi industri otomotif domestik dan mengebiri potensi penyerapan tenaga kerja lokal.

Kebijakan ambisius yang dijadwalkan terlaksana pada tahun 2026 ini menuai sorotan tajam karena dianggap bertolak belakang dengan semangat hilirisasi dan kemandirian industri yang selama ini digaungkan pemerintah. Para pengamat dan pelaku industri khawatir bahwa keputusan ini akan secara langsung mencederai upaya penguatan ekosistem UMKM otomotif dan menutup keran lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Pikap Impor Rp25 T: Industri Otomotif Lokal Dikhianati?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto, menjadi salah satu suara paling vokal yang mengkritisi langkah pengadaan ini. Moreno menegaskan bahwa mensubstitusi peran sumber daya lokal dengan impor CBU dalam skala masif adalah kerugian besar bagi bangsa. "Dengan impor 105 ribu unit mobil secara CBU dengan nilai hampir Rp25 triliun, berarti peluang membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia itu tidak ada. Malah memberikan lapangan kerja untuk India," tegas Moreno, menyoroti ironi di balik kebijakan tersebut.

Menganalisis logika pasar otomotif 2026, kucuran dana Rp25 triliun yang mengalir ke luar negeri—dengan rata-rata biaya per unit berkisar di angka Rp238 juta—adalah bentuk inefisiensi yang memprihatinkan. Dana sebesar itu, menurut banyak pihak, seharusnya bisa dialokasikan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, mengembangkan teknologi lokal, dan memberdayakan rantai pasok UMKM otomotif di Indonesia.

Keputusan ini bukan hanya sekadar transaksi jual-beli, melainkan juga cerminan komitmen terhadap pembangunan industri nasional. Dengan memprioritaskan produk impor CBU, pemerintah dikhawatirkan mengirim sinyal negatif kepada investor dan pelaku industri lokal yang selama ini berjuang keras membangun ekosistem otomotif yang tangguh dan mandiri. Masyarakat berharap ada tinjauan ulang terhadap rencana ini demi masa depan industri otomotif dan penciptaan lapangan kerja di negeri sendiri.

Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari wartakini.id, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar