Pikap India Bikin Geger! Harga Setengah Rival Jepang?

Pikap India Bikin Geger! Harga Setengah Rival Jepang?

wartakini.id – Pasar pikap double-cabin di Indonesia tengah dihebohkan dengan kedatangan Mahindra Scorpio Pikup dari India. Pabrikan ini berani menggebrak dengan banderol harga yang nyaris memangkas separuh dari harga kompetitor Jepang yang sudah mapan seperti Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton. Namun, di balik daya tarik harga yang sangat kompetitif, muncul pertanyaan besar mengenai kapabilitasnya di medan berat dan segmen fleet, terutama setelah mencuatnya polemik impor besar-besaran oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.

Polemik ini bermula dari keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor 105.000 unit pikap dan truk dari India, dengan nilai fantastis mencapai Rp24,66 triliun. Kebijakan ini sontak menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, mengingat kapasitas produksi kendaraan niaga di dalam negeri dinilai masih sangat memadai. Warganet pun ramai mempertanyakan mengapa PT Agrinas lebih memilih produk "Prindavan" (sebutan untuk India) ketimbang merek Jepang yang sudah teruji ketangguhannya di berbagai medan dan kondisi operasional.

Pikap India Bikin Geger! Harga Setengah Rival Jepang?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Duel Harga: Mahindra Scorpio vs. Jagoan Jepang

Mahindra Scorpio Pikup menawarkan harga yang sangat menggoda, jauh di bawah para rivalnya. Varian single cabin dibanderol Rp278.000.000, sementara varian double cabin dilepas dengan harga Rp318.000.000.

Sebagai perbandingan, Toyota Hilux varian double cabin 2.4 E (4×4) M/T diperkirakan akan dibanderol sekitar Rp454.600.000 hingga Rp539.900.000 untuk varian V A/T pada estimasi harga OTR Jakarta 2025.

Sementara itu, Mitsubishi Triton memiliki rentang harga yang cukup lebar, mulai dari Rp302.000.000 (single cab terendah) sampai Rp553.750.000 (varian tertinggi/ultimate). Untuk varian double cabin 4×4, harganya umum berkisar antara Rp451.000.000 hingga Rp519.000.000, tergantung trim.

Dengan selisih harga antara Rp130 juta hingga Rp240 juta terhadap rival double-cabin 4×4-nya, Mahindra jelas memberikan tawaran yang sangat menggiurkan dari segi investasi awal. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah harga pembelian awal yang murah ini sejalan dengan Total Cost of Ownership (TCO) atau biaya kepemilikan total dalam jangka panjang, terutama jika pikap ini digunakan untuk operasional berat dan intensif?

Intip Dapur Pacu: Kekuatan di Balik Harga Murah

Mahindra Scorpio Pikup (varian double-cab) dibekali mesin turbo-diesel mHawk berkapasitas 2.179–2.200 cc. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 103 kW atau setara 140 PS, dengan torsi puncak sekitar 320 Nm. Dengan kerangka dan gross weight-nya, pikap ini diposisikan di segmen ringan-berat.

Sayangnya, data spesifikasi detail untuk perbandingan langsung dengan Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton tidak tersedia dalam informasi ini. Namun, secara umum, pikap Jepang dikenal dengan ketangguhan mesin, transmisi, dan sistem penggerak 4×4 yang telah teruji di berbagai kondisi jalan ekstrem dan beban kerja berat selama bertahun-tahun di Indonesia.

Analisis Pasar: Lebih dari Sekadar Harga

Kehadiran Mahindra Scorpio Pikup memang menciptakan disrupsi harga yang signifikan di pasar otomotatis Indonesia. Namun, pasar pikap di Indonesia, khususnya untuk segmen fleet dan penggunaan di medan berat seperti pertambangan, perkebunan, atau konstruksi, sangat mengutamakan durabilitas, ketersediaan suku cadang, jaringan servis yang luas, dan tentu saja, rekam jejak ketangguhan yang telah terbukti.

Meskipun harganya "memukul" pasar, keraguan akan "celah kemampuan" Mahindra di medan ekstrem atau untuk penggunaan fleet yang intensif masih menjadi perhatian. Konsumen dan operator fleet akan mempertimbangkan tidak hanya harga beli, tetapi juga biaya perawatan, efisiensi bahan bakar, nilai jual kembali, dan yang terpenting, keandalan di lapangan yang bisa meminimalkan downtime.

Pertarungan antara pikap "Prindavan" yang agresif secara harga dan "Jagoan Jepang" yang sudah mapan dengan reputasi tangguh ini akan menjadi tontonan menarik di pasar otomotif Indonesia. Keputusan PT Agrinas yang kontroversial ini pun menambah dimensi lain dalam persaingan sengit ini, memicu debat tentang prioritas antara harga murah versus kualitas, durabilitas, dan dukungan purna jual yang komprehensif.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar