Pikap India: Raja Spesifikasi, Loyo di Layanan Purna Jual?

Pikap India: Raja Spesifikasi, Loyo di Layanan Purna Jual?

wartakini.id – Keputusan masif pemerintah untuk mengimpor ratusan ribu unit pikap dari India, guna menopang operasional Koperasi Desa (Kopdes) di seluruh penjuru negeri, kembali membuka lembaran diskusi tentang rekam jejak otomotif nasional. Di atas kertas, kendaraan niaga asal India seperti Mahindra Scorpio dan lini produk komersial Tata Motors memang menjanjikan performa superior. Namun, realitas di lapangan menyoroti sebuah ironi: ketangguhan sejati sebuah kendaraan di Indonesia tidak hanya diukur dari spesifikasi mesin atau ketebalan sasis, melainkan dari seberapa cepat ia dapat kembali beroperasi setelah mengalami kendala di pelosok desa.

Jika ditelisik dari aspek teknis dan material dasar, pikap-pikap India ini memang mengusung filosofi "heavy-duty". Di negara asalnya, kendaraan ini terbukti tangguh menghadapi siksaan muatan ekstrem (overloading) yang seringkali melampaui batas regulasi pabrikan. Struktur sasis tangga (ladder frame) yang digunakannya diklaim memiliki ketebalan pelat baja di atas rata-rata pikap Jepang kelas ringan yang beredar di pasaran.

Pikap India: Raja Spesifikasi, Loyo di Layanan Purna Jual?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Ambil contoh Mahindra Scorpio Pik Up, yang di Indonesia dibanderol di kisaran Rp278 juta untuk varian single cabin dan Rp318 juta untuk double cabin. Jantung pacu mumpuni berupa mesin turbo diesel common-rail mHawk 2.2 liter ini mampu memuntahkan tenaga impresif 140 HP dan torsi raksasa 320 Nm pada rentang putaran mesin rendah 1.500 hingga 2.800 rpm. Angka ini secara telak mengungguli para kompetitor pikap Jepang rakitan GAIKINDO, seperti Mitsubishi L300 yang hanya mengandalkan mesin 4N14 dengan tenaga 98 HP dan torsi 200 Nm, atau Suzuki Carry bensin yang bertenaga 95 HP. Tak hanya itu, dari sisi daya dorong di medan berlumpur, teknologi penggerak 4×4 dan fitur Electronic Locking Differential milik Mahindra jelas memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan.

Namun, di balik gemerlap spesifikasi di atas kertas, muncul pertanyaan krusial tentang kesiapan layanan purna jual di Indonesia. Dalam konteks industri logistik Indonesia yang dikenal ‘kejam’ dengan minimnya infrastruktur pendukung di banyak wilayah, definisi ‘ketangguhan’ memiliki makna yang jauh lebih kompleks. Bukan sekadar seberapa tebal sasisnya atau seberapa besar tenaganya, melainkan seberapa cepat sebuah kendaraan dapat kembali beroperasi saat mogok di pelosok desa terpencil. Pengalaman pahit menunjukkan bahwa pikap dengan spesifikasi dewa sekalipun bisa menjadi beban operasional jika suku cadang sulit didapat, jaringan bengkel resmi terbatas, atau mekanik terlatih tidak tersedia di daerah-daerah terpencil. Ini menjadi tantangan besar bagi Agrinas dan para distributor pikap India untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya unggul dalam brosur, tetapi juga dalam ekosistem layanan purna jual yang vital bagi keberlanjutan operasional di lapangan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar