wartakini.id – Reputasi Volvo sebagai produsen "mobil tank" yang tak tertandingi dalam hal keselamatan kini dipertaruhkan. Raksasa otomotif Swedia itu terpaksa melakukan penarikan kembali (recall) lebih dari 40.000 unit SUV listrik terbarunya, EX30, akibat ancaman serius dari modul baterai yang berisiko mengalami panas berlebih dan berujung pada kebakaran.

Related Post
Pengumuman dari Volvo Cars di Stockholm ini mengonfirmasi adanya potensi fatal pada modul paket baterai tegangan tinggi. Modul tersebut, jika tidak ditangani, berisiko mengalami panas berlebih (overheating) yang ekstrem, bahkan hingga memicu insiden kebakaran. Sebuah skenario yang sangat dihindari oleh setiap produsen otomotif, apalagi Volvo yang selalu mengedepankan keamanan sebagai filosofi inti.

Mitos "mobil tank" yang melekat pada Volvo selama puluhan tahun, berkat kualitas rekayasa dan desain bodi yang kokoh serta filosofi keselamatan penumpang di atas segalanya, kini menghadapi ujian terberatnya. Penarikan massal EX30 ini bukan sekadar masalah teknis biasa; ini adalah hantaman langsung ke jantung reputasi yang telah dibangun Volvo dengan susah payah. Konsekuensinya pun langsung terasa di bursa saham, di mana nilai saham Volvo Cars anjlok hingga 4 persen pasca pengumuman.
Jumlah unit yang terdampak sangat signifikan, mencapai 40.323 kendaraan. Ini mencakup kedua varian populer, yakni EX30 Single-Motor Extended Range dan Twin-Motor Performance. Menanggapi situasi ini, Volvo telah mengambil langkah proaktif. "Kami sekarang menghubungi pemilik semua mobil yang terkena dampak untuk memberi tahu mereka tentang langkah selanjutnya," demikian pernyataan resmi dari pabrikan, menegaskan komitmen untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya dan mengembalikan kepercayaan konsumen.
Insiden ini juga menyoroti ironi dalam dinamika pasar otomotif global. Volvo, yang kini mayoritas sahamnya dimiliki oleh konglomerat China, Geely, menjadikan SUV ringkas EX30 sebagai senjata utama untuk bersaing di segmen EV yang didominasi oleh pabrikan China. Penarikan ini terjadi di tengah tekanan besar bagi pabrikan tradisional Eropa untuk mengejar ketertinggalan dalam elektrifikasi, terutama menjelang proyeksi tren pasar 2026. Tantangan ini bukan hanya soal teknis, melainkan juga pertarungan reputasi dan kecepatan inovasi di era elektrifikasi.










Tinggalkan komentar