Skandal Impor 105 Ribu Pikap India: Industri Lokal Terancam!

Skandal Impor 105 Ribu Pikap India: Industri Lokal Terancam!

wartakini.id – Keputusan kontroversial PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) untuk mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga dari India demi menopang operasional logistik Koperasi Desa Merah Putih telah memicu gelombang kritik tajam. Langkah masif ini dinilai bertentangan langsung dengan visi industrialisasi nasional yang tengah digalakkan, bahkan disebut kontraproduktif terhadap peta jalan ekonomi bangsa.

Di tengah semangat kemandirian ekonomi yang gencar didengungkan oleh Presiden Prabowo Subianto, manuver impor berskala jumbo yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini justru menjadi pukulan telak bagi sektor otomotif dalam negeri. Dampaknya diperkirakan sangat signifikan, dengan potensi kerugian Produk Domestik Bruto (PDB) yang diproyeksikan mencapai angka fantastis, yakni Rp39,29 triliun.

Skandal Impor 105 Ribu Pikap India: Industri Lokal Terancam!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Detail kontrak menunjukkan bahwa Agrinas mengimpor seluruh unit kendaraan ini dalam kondisi utuh atau Completely Built Up (CBU) dari dua pabrikan otomotif terkemuka asal India. Total 105.000 unit tersebut terbagi menjadi dua jenis utama: 35.000 unit merupakan model pikap Mahindra Scorpio, sementara 70.000 unit sisanya berasal dari Tata Motors, yang terdiri dari 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Center of Economic and Law Studies (Celios) telah melakukan kajian mendalam, menguak dampak destruktif yang ditimbulkan oleh kebijakan impor ini. Mereka menilai, alih-alih memicu efek pengganda (multiplier effect) yang diharapkan di kancah domestik, masuknya unit CBU ini justru secara langsung melumpuhkan roda perekonomian lokal.

Nailul Huda, seorang ekonom dari Celios, secara tegas menyatakan bahwa kebijakan ini berisiko besar merebut pangsa pasar dari produk-produk rakitan lokal. Lebih lanjut, studi Celios menggarisbawahi bahwa selain kerugian PDB sebesar Rp39,29 triliun, dampak mengerikan lainnya adalah hilangnya potensi pendapatan masyarakat senilai Rp39,05 triliun, serta ancaman serius terhadap sekitar 330.000 lapangan pekerjaan di berbagai sektor terkait.

"Tidak ada aktivitas ekonomi yang diciptakan dari importasi ini. Industri otomotif, khususnya yang menjual mobil pick up, akan mengalami kerugian. Maka mereka akan mengurangi produksi ataupun membeli bahan baku atau stok. PMI Manufaktur industri otomotif akan mengalami pelemahan," tutur Huda, saat dihubungi wartakini.id.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar