Terkuak! Wamenkeu Bongkar Efek Perang Global ke APBN RI!

Terkuak! Wamenkeu Bongkar Efek Perang Global ke APBN RI!

wartakini.id, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia berada dalam posisi siap siaga untuk merespons berbagai gejolak global, termasuk eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan ini disampaikan Juda dalam sebuah forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan pada Senin malam, 2 Maret 2026, di tengah kekhawatiran pasar global.

Juda Agung merujuk pada desain postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kokoh serta sejumlah indikator makroekonomi nasional yang menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi. "APBN kita itu memang didesain dengan prinsip kehati-hatian (prudent) dan fleksibilitas," ujar Juda. Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen memastikan defisit anggaran tetap di bawah 3 persen dari PDB, dengan rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 40 persen. "Fleksibel, artinya termasuk kalau terjadi guncangan-guncangan yang bersumber dari global," tegasnya, menggarisbawahi kemampuan APBN untuk beradaptasi.

Terkuak! Wamenkeu Bongkar Efek Perang Global ke APBN RI!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Meski demikian, Wamenkeu tidak menampik adanya potensi risiko signifikan yang patut diwaspadai. Ia secara khusus menyoroti ancaman inflasi harga minyak dunia yang bisa melonjak drastis, terutama jika Iran benar-benar merealisasikan ancaman pemblokiran Selat Hormuz. Kondisi ini, menurut Juda, akan berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah, khususnya terhadap dolar AS, sehingga menciptakan tekanan serius pada ruang fiskal nasional.

Lebih lanjut, Juda memaparkan perhitungan detail mengenai dampak finansial dari skenario terburuk tersebut. "Setiap kenaikan satu dolar pada ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit sebesar Rp6,8 triliun," jelasnya. Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah sebesar Rp100 per dolar AS diperkirakan akan menambah defisit sekitar Rp0,8 triliun. Tak hanya itu, kenaikan yield obligasi sebesar 0,1 persen juga berpotensi menambah beban defisit anggaran sebesar Rp1,9 triliun. Angka-angka ini mengindikasikan betapa sensitifnya APBN terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Pemerintah, melalui Wamenkeu, mengisyaratkan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar