Paus Otomotif: Eropa Tertinggal 2 Dekade dari China!

Related Post
wartakini.id – Para produsen mobil Eropa disebut menghadapi defisit teknologi yang signifikan dalam revolusi kendaraan listrik, dengan benua tersebut diperkirakan tertinggal "setidaknya 20 tahun di belakang China" dalam pengembangan baterai. Penilaian blak-blakan ini datang dari Profesor Ferdinand Dudenhöffer, pakar otomotif Jerman terkemuka yang dijuluki "Paus Otomotif" oleh media lokal.

Dalam wawancara eksklusif dengan surat kabar China Global Times, Dudenhöffer, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Otomotif di Bochum, Jerman, memberikan gambaran suram tentang posisi Eropa. Menurutnya, persaingan global dalam kendaraan listrik (EV) telah menempatkan Eropa pada posisi yang kurang menguntungkan, terutama di sektor kunci.
Dengan tegas, Dudenhöffer menyatakan, "Di sektor baterai, Eropa tertinggal 20 tahun dari China." Ia menekankan bahwa dominasi Tiongkok dalam teknologi baterai telah memaksa produsen Eropa untuk mencari kemitraan strategis. Kerja sama dengan pemasok asal China kini menjadi krusial agar pabrikan Eropa dapat mempertahankan daya saing mereka di pasar global yang semakin ketat.
Komentar Dudenhöffer ini muncul di tengah lonjakan penjualan kendaraan listrik Tiongkok di pasar Eropa. Pada Desember 2025, produsen mobil Tiongkok untuk pertama kalinya melaporkan volume penjualan bulanan melebihi 100.000 unit di Eropa, sebuah pencapaian yang signifikan. Angka tersebut berhasil mengamankan pangsa pasar sebesar 9,5% bagi pabrikan Tiongkok di benua biru, menandakan pergeseran dinamika pasar yang jelas.
Kesenjangan teknologi yang mencolok ini, khususnya dalam inovasi baterai, menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan industri otomotif Eropa. Tanpa investasi besar dan percepatan pengembangan, peringatan dari ‘Paus Otomotif’ ini bisa menjadi kenyataan pahit yang sulit dihindari.










Tinggalkan komentar