Gawat! Selat Hormuz Mencekam, Pasokan Energi RI di Ujung Tanduk?

wartakini.id, Jakarta – Ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah berpotensi besar mengguncang fondasi ketahanan energi nasional Indonesia. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang kian meruncing, dikhawatirkan dapat melumpuhkan jalur pasokan minyak dan LPG global, terutama yang melintasi Selat Hormuz, urat nadi distribusi energi dunia.

kapal tanker uCRs large
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menurut Pengamat Energi, Sofyano Zakaria, gejolak geopolitik global ini bukan sekadar berita jauh, melainkan ancaman konkret bagi Indonesia. Ia menyoroti bagaimana berbagai pernyataan dari Presiden hingga pejabat tinggi pemerintah telah mengindikasikan kekhawatiran serius terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dan LPG yang selama ini diimpor Indonesia, yang mayoritas harus melewati jalur vital Selat Hormuz.

Sofyano menegaskan, Selat Hormuz adalah arteri utama distribusi energi global. Setiap eskalasi militer di wilayah tersebut secara otomatis akan memicu peningkatan risiko terhadap kelancaran pasokan energi dunia, termasuk bagi Indonesia yang tingkat ketergantungannya pada impor minyak dan LPG masih sangat tinggi.

"Kewaspadaan pemerintah dalam menyikapi situasi ini adalah langkah yang sangat tepat," ujar Sofyano dalam keterangannya baru-baru ini. Ia juga mengapresiasi visi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong percepatan program elektrifikasi nasional, melihatnya sebagai komitmen politik yang patut didukung. Namun, Sofyano mengingatkan, program ambisius ini harus dirancang dengan sangat cermat dan komprehensif agar benar-benar efektif dan tidak justru memunculkan masalah baru di kemudian hari.

"Elektrifikasi memang merupakan salah satu strategi kunci untuk memangkas ketergantungan kita pada energi impor. Namun, bentuk dan skema implementasinya wajib dikaji secara mendalam agar kebijakan yang lahir benar-benar tepat sasaran dan mampu bertahan jangka panjang," imbuh Sofyano.

Ia menyoroti potensi besar Indonesia dengan kapasitas produksi listrik yang melimpah, bahkan di beberapa daerah sudah mendekati kondisi oversupply. Kondisi ini, menurutnya, harus dioptimalkan melalui program elektrifikasi yang terencana, sehingga kelebihan pasokan listrik dapat terserap maksimal oleh sektor rumah tangga maupun transportasi. Selain itu, cadangan batu bara nasional yang masih sangat besar juga harus menjadi pilar pertimbangan dalam menyusun strategi energi. Pemanfaatan sumber daya domestik ini bisa menjadi benteng antisipasi jika konflik di Timur Tengah mengganggu distribusi energi global.

Sofyano menyarankan agar program elektrifikasi dapat diimplementasikan secara bertahap, khususnya untuk menggantikan energi yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Ia mencontohkan, mendorong penggunaan kompor listrik sebagai alternatif kompor LPG di rumah tangga. Langkah ini, selain berpotensi signifikan mengurangi impor LPG, juga akan mengoptimalkan pemanfaatan listrik nasional yang kini berlimpah.

Namun, ia juga mengkritisi rencana kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait insentif konversi sepeda motor BBM ke listrik. Menurutnya, kebijakan ini kurang tepat sasaran jika ditinjau dari kemampuan ekonomi mayoritas masyarakat.

"Meskipun ada insentif, masyarakat tetap dibebani biaya yang substansial dari kantong pribadi. Realitanya, biaya konversi motor ke listrik jauh melampaui nilai insentif yang ditawarkan pemerintah," pungkas Sofyano, mengingatkan pentingnya kebijakan yang realistis dan berpihak pada rakyat.


Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar