Harga Plastik Meledak! Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok Utama!

Related Post
wartakini.id, Jakarta – Harga plastik global terpantau melonjak drastis dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan signifikan ini bukan tanpa sebab; gejolak geopolitik di Timur Tengah disebut-sebut sebagai pemicu utama terganggunya pasokan bahan baku esensial, naphtha, yang berimbas pada industri di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Gangguan pasokan ini bermula dari eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut, khususnya setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Mengingat sekitar 70% pasokan naphtha dunia berasal dari Timur Tengah, insiden ini secara langsung memukul ketersediaan bahan baku vital bagi industri petrokimia global.
Akibatnya, harga naphtha melonjak hampir 45% hanya dalam kurun waktu satu bulan. Data menunjukkan, per 1 April 2026, harga naphtha telah menyentuh angka 917 USD per ton, jauh melampaui harga Februari yang berkisar 630 USD per ton. Fluktuasi harga ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dinamika geopolitik yang belum stabil.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor, Indonesia turut merasakan dampak signifikan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) Indonesia mencapai USD873,2 juta atau setara Rp14,78 triliun (dengan kurs Rp16.927) pada Februari 2026. Mayoritas pasokan ini datang dari Tiongkok (USD380,1 juta), diikuti Thailand (USD82,7 juta), dan Korea Selatan (USD66,7 juta), yang semuanya juga terpengaruh oleh harga bahan baku global.
Naphtha sendiri merupakan fondasi utama dalam industri petrokimia, diolah menjadi berbagai bahan kimia penting. Di antaranya adalah butadiena, yang menjadi bahan dasar sarung tangan karet dan ban; etilena, untuk memproduksi polietilena yang banyak digunakan pada botol plastik, kontainer, dan produk rumah tangga; serta propilena, komponen kunci dalam suku cadang otomotif, mainan, dan kemasan. Kenaikan harga naphtha otomatis memicu efek domino pada seluruh rantai produksi ini.
Meskipun pemerintah berupaya menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik, sektor industri tetap menghadapi lonjakan biaya produksi yang tak terhindarkan. Hal ini disebabkan bahan baku non-BBM seperti naphtha tidak termasuk dalam skema subsidi pemerintah, sehingga kenaikan harganya langsung membebani pelaku usaha dan pada akhirnya dapat diteruskan ke konsumen.









Tinggalkan komentar