Harga Minyak Dunia Menggila, Kendaraan Listrik Jadi Tameng Ekonomi Indonesia?

Harga Minyak Dunia Menggila, Kendaraan Listrik Jadi Tameng Ekonomi Indonesia?

Wartakini.id, Jakarta – Di tengah gejolak harga minyak mentah global yang kian tak menentu, percepatan adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia disebut-sebut sebagai strategi paling krusial untuk membentengi ekonomi domestik. Penilaian ini disampaikan oleh Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, yang menyoroti urgensi langkah elektrifikasi.

Related Post

Menurut Abra, volatilitas harga minyak yang dipicu oleh konflik geopolitik, seperti eskalasi ketegangan di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, secara telak membuktikan betapa rapuhnya stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional akibat ketergantungan tinggi pada Bahan Bakar Minyak (BBM) impor. Ia mencontohkan, harga minyak mentah jenis Brent melonjak drastis hingga 58%, mencapai USD116 per barel pada 9 Maret 2026. Angka ini jauh melampaui proyeksi asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang hanya dipatok USD70 per barel.

Harga Minyak Dunia Menggila, Kendaraan Listrik Jadi Tameng Ekonomi Indonesia?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kenaikan harga minyak yang fantastis ini, lanjut Abra, berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kalkulasi INDEF menunjukkan bahwa setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel dapat membengkakkan defisit fiskal hingga sekitar Rp6,8 triliun.

Risiko ini bahkan dapat memburuk secara eksponensial jika dibarengi dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan peningkatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Abra memproyeksikan, pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS dan kenaikan yield SBN 0,1 persen saja sudah dapat menambah beban defisit fiskal hingga Rp9,5 triliun. "Ini menegaskan bahwa gejolak harga minyak bukan hanya urusan sektor energi semata, melainkan memiliki dampak langsung dan serius terhadap stabilitas keuangan negara," tegasnya.

Lebih lanjut, urgensi elektrifikasi juga diperkuat oleh fakta bahwa cadangan operasional BBM nasional saat ini masih sangat terbatas, hanya berkisar 21 hingga 23 hari. Angka ini jauh di bawah standar internasional yang umumnya mensyaratkan cadangan di atas 90 hari, menunjukkan kerentanan Indonesia terhadap pasokan energi.

Melihat kondisi cadangan BBM yang minim ini, Abra menyimpulkan bahwa "pengendalian konsumsi melalui elektrifikasi sektor transportasi bukan lagi pilihan, melainkan strategi yang sangat rasional dan mendesak untuk menjamin ketahanan energi dan fiskal nasional."

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikuti kami :

Tinggalkan komentar