Wall Street Terjungkal, Minyak Membara: Ancaman Inflasi Kian Nyata!

Related Post
wartakini.id, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis waktu setempat. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi, yang diperparah oleh lonjakan harga minyak global. Selain itu, pesimisme pasar terkait kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini turut memperkeruh sentimen.

Data menunjukkan, indeks S&P 500 anjlok 0,27%, mengakhiri sesi di 6.606,49 poin. Indeks komposit Nasdaq juga tak luput dari tekanan, melemah 0,28% menjadi 22.090,69 poin, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan 0,44% ke level 46.021,43 poin. Pelemahan ini meluas ke berbagai sektor, di mana delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 menunjukkan kinerja negatif. Sektor material menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 1,55%, disusul sektor barang konsumsi non-esensial yang terkoreksi 0,87%. Informasi ini dihimpun oleh wartakini.id dari laporan Reuters pada Jumat (20/3).
Fokus investor kini tertuju pada pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang mengindikasikan prospek ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian. Ketidakpastian ini diperparah oleh eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran di Timur Tengah. Konflik geopolitik tersebut secara langsung memicu lonjakan harga energi, memperkuat kekhawatiran akan tekanan inflasi yang berkelanjutan. Dalam responsnya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sebuah langkah yang sejalan dengan ekspektasi pasar. Analisis dari FedWatch CME bahkan menunjukkan bahwa probabilitas penurunan suku bunga sebelum pertengahan 2027 masih sangat minim.
Tidak hanya The Fed, bank sentral utama lainnya seperti Bank of England (BoE) dan Bank Sentral Eropa (ECB) juga mengambil langkah serupa dengan mempertahankan suku bunga pada level stabil. Mereka terus memantau dengan cermat dampak ketidakpastian yang timbul dari konflik di Timur Tengah. Mike Dickson, Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif Horizon Investments di Charlotte, North Carolina, mengomentari situasi ini, menyatakan, "Pasar mulai mencerna pernyataan Powell dan sejumlah bank sentral lainnya semalam bahwa ini merupakan risiko inflasi yang nyata."
Di tengah gejolak pasar, harga minyak mentah jenis Brent sempat meroket, meskipun belum menyentuh puncak sesi di USD119 per barel. Kenaikan harga ini terjadi pasca-serangan Iran terhadap target-target energi vital di Timur Tengah, yang semakin memperkeruh pasokan global. Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah AS dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah-langkah untuk memperluas pasokan minyak demi menstabilkan harga dan meredakan kekhawatiran pasar.










Tinggalkan komentar