wartakini.id – Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membekali para Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) dengan motor trail listrik sebagai armada operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan tajam. Pengadaan ini dinilai keliru dan berpotensi membahayakan keselamatan para petugas di lapangan, alih-alih menjadi solusi mobilitas di pelosok Nusantara.

Related Post
Wisnu Guntoro Adi, seorang Aktivis Petualangan sekaligus pegiat Lomba Offroad Roda Dua, membedah secara kritis kebijakan tersebut. Menurutnya, narasi ketangguhan motor trail di segala medan menjadi ilusi berbahaya jika kemudinya diserahkan kepada pengendara yang tidak memiliki pengalaman. Ia secara lugas menyebut bahwa motor trail listrik dengan karakteristik torsi yang "liar" justru bisa menjadi bumerang bagi petugas yang tidak terlatih.

"Motor trail memang punya kapabilitas lebih di medan off-road, tapi itu tidak berarti semua orang bisa menggunakannya dengan aman," tegas Wisnu saat dihubungi wartakini.id. Ia menekankan bahwa medan off-road memiliki karakteristik yang sangat dinamis dan jauh berbeda dengan jalanan aspal mulus perkotaan. Mengendalikan kendaraan dengan pijakan tinggi seperti motor trail memerlukan akurasi dan teknik pengendalian yang matang.
Bagi petugas SPPG, yang notabene adalah kalangan pekerja awam dengan fokus pada distribusi gizi, bukan seorang atlet motocross profesional, mengendalikan motor jenis ini untuk melibas jalur hutan atau medan terjal justru menghadirkan tantangan maut tersendiri. Keputusan ini, alih-alih mempermudah akses ke daerah terpencil, justru menciptakan potensi bahaya serius yang dapat mengancam keselamatan para pengemudi dan menghambat jalannya program MBG itu sendiri. Wisnu berharap ada evaluasi ulang terhadap kebijakan ini demi keselamatan para petugas di garis depan.










Tinggalkan komentar