wartakini.id – Sebuah kejutan datang dari pasar keuangan domestik pada penutupan perdagangan Kamis 25 Juni 2026. Mata uang Garuda berhasil menunjukkan taringnya dengan merangkak naik 9 poin atau setara 0,05 persen. Kini, satu dolar Amerika Serikat harus ditebus dengan Rp17.943. Kenaikan ini tentu saja menjadi sorotan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh gejolak.
Baca Juga
Analis pasar uang terkemuka Ibrahim Assuaibi mengungkap faktor utama di balik penguatan rupiah yang tak terduga ini. Menurutnya dorongan kuat datang dari arena internasional. Sebuah kesepakatan penting yang dicapai awal pekan lalu menandai berakhirnya konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Perjanjian damai ini membawa dampak signifikan terutama pada jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Lalu lintas kapal kini dapat kembali beroperasi normal secara drastis meredakan kekhawatiran global akan pasokan minyak. Akibatnya harga minyak mentah dunia pun anjlok tajam sepanjang pekan ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan.
Menteri Energi AS Chris Wright dalam sebuah forum pada Rabu lalu menegaskan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz kini hampir kembali ke kondisi pra-konflik. Ia bahkan menyebutkan setidaknya 20 juta barel minyak telah melewati selat tersebut dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Meski demikian Wright memperingatkan bahwa pemulihan penuh dan sterilisasi ranjau di area tersebut masih akan memakan waktu beberapa minggu ke depan.
Kesepakatan yang baru terjalin ini juga membuka periode negosiasi selama 60 hari ke depan untuk membahas isu-isu yang lebih kompleks termasuk program nuklir Iran. Wright optimistis pasokan minyak akan terus mengalir lancar melalui selat bahkan jika negosiasi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Ia juga meyakini Iran tidak akan lagi mampu menutup jalur strategis tersebut.
Menyikapi perkembangan ini Oman pada Rabu lalu telah mengambil langkah proaktif dengan membuka rute sementara. Jalur alternatif ini dirancang untuk mempermudah pergerakan kapal tanker dari Selat Hormuz dengan koordinasi erat antara Organisasi Maritim Internasional dan otoritas Oman. Tak hanya itu Perdana Menteri Qatar juga dilaporkan telah mengunjungi Oman untuk membahas dimulainya pembicaraan mengenai pengelolaan masa depan selat bersama Iran Irak dan negara-negara Teluk lainnya.





































