wartakini.id – Pasar SUV diesel ladder frame di Indonesia sedang menghadapi badai. Penjualan segmen tangguh ini anjlok drastis hampir 70 persen dalam hitungan bulan. Data terbaru menunjukkan penurunan signifikan dari 2.742 unit pada Februari 2026 menjadi hanya 896 unit di Juli 2026. Apa pemicunya? Kenaikan harga bahan bakar solar non-subsidi yang melambung tinggi menjadi biang keladinya.
Baca Juga
Pertamina mulai menaikkan harga BBM diesel non-subsidi secara signifikan sejak pertengahan April 2026. Pertamina Dex yang semula sekitar Rp14.500 per liter, melonjak menjadi Rp23.900 pada 18 April. Tak berhenti di situ, awal Mei 2026, tepatnya tanggal 4, harga Pertamina Dex mencapai puncaknya di Rp27.900 per liter. Kenaikan ini fantastis, mencapai 92,4 persen dalam waktu kurang dari sebulan. Dexlite juga mengalami nasib serupa, mencapai Rp26.000.

Meski sempat turun bertahap sepanjang Juni dan Juli, harga BBM diesel non-subsidi masih jauh lebih tinggi dari kondisi sebelum April. Saat ini, Pertamina Dex berada di angka Rp21.150 dan Dexlite Rp19.700 per liter. Angka ini 45,9 persen lebih mahal dibanding harga awal tahun. Dampaknya langsung terasa di dompet para pemilik SUV bongsor. Mengisi penuh tangki Fortuner yang berkapasitas 80 liter dengan Pertamina Dex saat harga Rp23.900 saja sudah menelan biaya hingga Rp1.912.000. Sementara itu, pemilik Pajero Sport harus merogoh kocek sekitar Rp1.625.200 untuk sekali isi penuh.
Data penjualan wholesales dari Gaikindo secara gamblang menunjukkan betapa parahnya pukulan ini. Pada Februari 2026, sebelum harga BBM melonjak, Mitsubishi Pajero Sport masih mencatatkan penjualan 1.262 unit dan Toyota Fortuner 1.103 unit. Namun, memasuki Juli 2026, total penjualan segmen ini anjlok dari 2.742 unit menjadi hanya 896 unit. Penurunan tajam ini menjadi bukti nyata bahwa kenaikan harga solar non-subsidi telah mengguncang fondasi pasar SUV diesel ladder frame di Tanah Air.





































