wartakini.id – Ambisi VinFast untuk menancapkan kukunya di pasar kendaraan listrik Indonesia tak main-main. Raksasa otomotif asal Vietnam ini telah menggelontorkan dana triliunan rupiah demi membangun ekosistem pendukung yang masif. Namun, ada satu fenomena unik yang membuat publik terheran-heran: angka penjualan mobil listrik mereka yang masih jauh dari ekspektasi, bahkan terkesan lesu.
Baca Juga
Komitmen finansial VinFast sungguh fantastis. Mereka baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan Gowa Motor Group, menargetkan penambahan minimal 30 diler dan pusat layanan baru di seluruh Indonesia melalui skema kerja sama pengembangan diler. Jika rencana ini terealisasi, jaringan diler VinFast akan membengkak hingga lebih dari 150 titik dalam beberapa tahun ke depan. Tak hanya itu, pabrik perakitan mereka di Subang Jawa Barat yang berdiri di lahan seluas 171 hektare telah beroperasi sejak akhir tahun lalu. Fase pertama saja menelan anggaran sekitar 5,34 triliun rupiah dengan kapasitas produksi awal 50 ribu unit per tahun. Jika seluruh fase rampung, total penanaman modal bisa melampaui 17,8 triliun rupiah dengan kapasitas produksi mencapai 350 ribu unit setiap tahunnya.

Belum cukup sampai di situ, VinFast melalui unit usahanya V-Green juga menggandeng Prime Group dari Uni Emirat Arab untuk membangun 100 ribu titik pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun. Proyek ini saja menelan biaya sekitar 21,36 triliun rupiah. Pembangunan infrastruktur pengisian daya ini sudah dimulai sejak Januari 2025.
Melihat skala investasi yang begitu besar, wajar jika publik menaruh harapan tinggi pada performa penjualan VinFast. Namun, data berbicara lain. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan grosir VinFast di Indonesia hanya mencapai 1.934 unit, dengan penjualan ritel yang lebih kecil lagi, yakni 1.708 unit. Jika angka ini disetahunkan, total penjualan hanya sekitar 3.868 unit. Angka ini bahkan belum menyentuh 8 persen dari kapasitas produksi awal pabrik mereka sendiri. Sebuah kontradiksi nyata antara kapasitas produksi raksasa dan serapan pasar yang minim.
Misteri ini semakin dalam jika kita menengok data penjualan Desember 2025. Pada bulan itu, penjualan grosir VinFast tiba-tiba meroket hingga 7.768 unit, bahkan melampaui merek lain seperti BYD yang hanya 6.560 unit. Lonjakan ini sontak menempatkan VinFast dalam jajaran lima besar merek mobil terlaris nasional. Padahal, total penjualan grosir VinFast dari Januari hingga November 2025 hanya mencapai 3.118 unit. Artinya, dalam satu bulan terakhir tahun itu, VinFast berhasil menjual lebih banyak unit dibandingkan gabungan sebelas bulan sebelumnya.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apa strategi di balik lonjakan sesaat itu dan mengapa performa penjualan kembali lesu di semester pertama 2026, padahal infrastruktur pendukung terus digenjot? VinFast tampaknya sedang menghadapi tantangan unik dalam menaklukkan pasar kendaraan listrik di Tanah Air.





































