Wartakini.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penurunan tajam di level 6.833 pada perdagangan Senin (23/6/2025), merespon ketegangan geopolitik pasca serangan AS ke Iran. Pergerakan negatif ini menunjukkan sentimen pasar yang tertekan.

Related Post
Pada pukul 09.06 WIB, IHSG tercatat anjlok 2,05 persen atau 141,90 poin, hingga menyentuh level 6.765. Volume perdagangan mencapai 2,96 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,61 triliun, melibatkan 160.091 kali transaksi. Kondisi ini mengindikasikan aksi jual besar-besaran yang melanda pasar saham domestik.

Dominasi warna merah terlihat jelas pada seluruh sektor. Sektor teknologi memimpin penurunan dengan koreksi 1,91 persen, disusul sektor energi (-1,51%), kesehatan (-1,16%), bahan baku (-2,34%), transportasi (-0,44%), infrastruktur (-2,46%), keuangan (-1,75%), industri (-1,59%), properti (-2,46%), siklikal (-2,55%), dan non-siklikal (-2,34%). Praktis, tidak ada sektor yang mampu bertahan dari tekanan jual tersebut.
Di tengah merahnya bursa, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. PT Master Print Tbk (PTMR) memimpin top gainers dengan lonjakan 21,67 persen ke level Rp292. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang naik 17,46 persen ke Rp222, dan PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) dengan kenaikan 15,32 persen ke Rp128. Kenaikan ini menunjukkan adanya pergerakan yang tidak biasa dan perlu dikaji lebih lanjut. Apakah ini merupakan aksi beli agresif yang memanfaatkan situasi atau faktor lain yang perlu dipertimbangkan?
Penurunan IHSG ini menimbulkan pertanyaan besar terkait dampak jangka panjang serangan AS ke Iran terhadap pasar modal Indonesia. Para analis pasar akan terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap investor domestik dan asing. Ketidakpastian geopolitik seringkali menjadi pemicu utama volatilitas pasar saham.









Tinggalkan komentar