wartakini.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja massal tengah menghantam jantung industri otomotif Eropa sebuah badai yang mengancam puluhan ribu karyawan dan mengubah lanskap bisnis global. Sejak awal 2024 pabrikan dan pemasok otomotif kenamaan di benua biru terpaksa melakukan pemangkasan karyawan secara drastis sebagai respons atas krisis multidimensi yang terjadi.
Baca Juga
Angka-angka terbaru sungguh mengejutkan Lebih dari 111.000 posisi pekerjaan telah diumumkan untuk dipangkas secara global oleh perusahaan otomotif Eropa sejak tahun 2024. Jika proyeksi jangka panjang hingga 2035 turut dihitung total karyawan yang terancam kehilangan pekerjaan bisa mencapai 146.950 orang. Jerman yang selama ini dikenal sebagai benteng kekuatan otomotif Eropa menjadi episentrum badai ini. Empat merek raksasa dari Jerman yakni Volkswagen Audi BMW dan Porsche menyumbang 85 persen dari total PHK yang telah diumumkan.

Asosiasi Pemasok Otomotif Eropa CLEPA melaporkan lebih dari 100.000 pekerjaan di Jerman saja telah lenyap sepanjang 2024 hingga 2025. Sementara itu Asosiasi Industri Otomotif Jerman VDA memperingatkan potensi kehilangan tambahan 125.000 pekerjaan lagi hingga 2035 jika daya saing industri nasional tidak segera ditingkatkan.
Apa sebenarnya yang memicu krisis mendalam ini Ada beberapa faktor utama yang saling berkaitan
Pertama Tekanan Tarif Amerika Serikat Kebijakan tarif impor kendaraan dari Eropa ke AS melonjak tajam dari 25 persen menjadi 15 persen di bawah pemerintahan Donald Trump. Dampak finansialnya tidak main-main total ekspor otomotif Uni Eropa diperkirakan merugi hingga 67 miliar euro. Khusus bagi Volkswagen Group beban biaya tarif ini mencapai 29 miliar euro atau sekitar Rp565 triliun hanya dalam tahun fiskal 2025 saja.
Kedua Gempuran Merek Otomotif China Pasar otomotif China yang dulunya merupakan tambang emas bagi produsen Eropa kini dikuasai merek lokal. Pangsa pasar gabungan produsen non-Tiongkok di China anjlok dari 57 persen pada 2020 menjadi hanya 32 persen pada 2025. Merek domestik China kini mendominasi hampir 69 persen pasar dalam negeri mereka. Bahkan merek-merek seperti Jaecoo 7 dari China telah berhasil masuk daftar tiga mobil terlaris di Inggris menunjukkan ekspansi agresif mereka ke pasar global.
Ketiga Perlambatan Adopsi Kendaraan Listrik Investasi pada kendaraan listrik EV di Eropa mengalami penurunan drastis. Pada 2024 investasi EV anjlok ke 564 miliar euro atau sekitar Rp1099 triliun angka terendah sejak 2019. Momentum transisi menuju era kendaraan listrik yang diharapkan menjadi penyelamat justru tersendat menambah daftar panjang tantangan bagi industri otomotif Eropa.





































