wartakini.id – Pasar keuangan Indonesia memulai pekan dengan sentimen negatif yang mendalam pada Senin (9/3/2026). Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah signifikan, menembus ambang psikologis Rp17.000, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam yang membuat investor khawatir.

Related Post
Data perdagangan menunjukkan, Rupiah anjlok 76 poin atau 0,45 persen, mencapai level Rp17.001 per dolar AS. Pelemahan drastis ini terjadi setelah mata uang Garuda menutup perdagangan sebelumnya di posisi Rp16.925 per dolar AS, menandakan adanya tekanan jual yang kuat di pasar valuta asing.

Tak hanya Rupiah, IHSG juga tak berdaya menghadapi tekanan jual. Setelah dibuka dengan pelemahan mendekati 3 persen, indeks acuan pasar modal itu terus merosot tajam hingga 5,55 persen, bertengger di level 7.162 pada pukul 09.22 WIB. Kondisi ini mencerminkan kepanikan investor di awal sesi perdagangan yang memicu aksi jual masif.
Kondisi pasar yang bergejolak tercermin dari aktivitas transaksi yang tinggi namun didominasi oleh penjualan. Sebanyak 8,318 miliar lembar saham berpindah tangan dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp3,883 triliun dari 377.501 kali transaksi. Mayoritas saham, yakni 628 saham, tercatat melemah, sementara hanya 34 saham yang menguat dan 55 saham stagnan.
Pelemahan IHSG terjadi secara menyeluruh di berbagai sektor. Sektor barang baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan signifikan sebesar 8,55 persen. Disusul oleh sektor infrastruktur yang terkoreksi 7,55 persen, dan sektor non-primer yang anjlok 6,72 persen. Sektor energi juga tak luput dari tekanan, merosot 6,05 persen, serta sektor perindustrian yang melemah 5,04 persen.
Sementara itu, sektor properti kehilangan 4,92 persen nilainya, disusul sektor transportasi yang turun 4,88 persen, dan sektor primer yang terkoreksi 4,56 persen. Sektor teknologi juga mencatat koreksi 3,51 persen. Bahkan sektor yang sering dianggap defensif seperti kesehatan ikut tertekan 2,85 persen, dan sektor keuangan, meskipun paling tipis, tetap melemah 2,19 persen. Kondisi ini menandakan kekhawatiran pasar yang mendalam terhadap prospek ekonomi, memicu aksi jual masif di berbagai lini investasi.








Tinggalkan komentar