wartakini.id – Sebuah temuan menarik diungkapkan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung. Ia membeberkan bahwa negara-negara yang agresif mengadopsi energi baru terbarukan (EBT) dalam skala besar justru menikmati biaya energi yang jauh lebih rendah. Kondisi ini berbanding terbalik dengan asumsi umum bahwa EBT selalu lebih mahal dibandingkan sumber energi konvensional.
Baca Juga
Fenomena ini menunjukkan bahwa pemanfaatan EBT bukan sekadar upaya transisi menuju energi yang lebih bersih. Lebih dari itu, adopsi EBT memiliki dampak signifikan terhadap tarif listrik dan daya saing sektor industri. Industri akan tumbuh lebih cepat dan kuat ketika beban biaya energi dapat ditekan serendah mungkin. Yuliot menyampaikan pandangannya ini dalam gelaran Indo EBTKE ConEx and Exhibition ke-12 di JIExpo Kemayoran.

Sebagai ilustrasi, Yuliot menunjuk Pakistan. Negara tersebut memiliki total kapasitas pembangkit listrik sekitar 50 gigawatt (GW). Dari angka tersebut, lebih dari 17 GW berasal dari reaktor nuklir dan lebih dari 17 GW lainnya disumbang oleh pembangkit hidroelektrik. Komposisi energi yang didominasi oleh sumber terbarukan ini memungkinkan Pakistan menawarkan tarif listrik yang sangat kompetitif, yakni sekitar 6 sen dolar AS per kilowatt-jam (kWh) kepada warganya.
Dampak langsung dari harga listrik yang terjangkau ini terlihat jelas pada geliat ekonomi Pakistan. Sektor manufaktur di sana didominasi oleh pelaku usaha mikro dan kecil yang aktif berproduksi. Hal ini menggarisbawahi betapa eratnya hubungan antara ketersediaan energi yang murah dengan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan industri. Biaya energi yang efisien membuka ruang lebar bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai kegiatan manufaktur, termasuk usaha berskala kecil yang menjadi tulang punggung perekonomian.





































