Wartakini.id, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumumkan kabar gembira terkait ketahanan pangan nasional. Stok beras Indonesia diproyeksikan mencapai 5 juta ton bulan ini, sebuah angka yang belum pernah tercatat sepanjang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Pencapaian ini menandai tonggak penting dalam upaya swasembada pangan.
Baca Juga
"Sekarang, bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka," tegas Amran dalam keterangan resminya pada Minggu (12/4/2026). Pernyataan ini disampaikan dengan optimisme tinggi, menggambarkan keberhasilan sektor pertanian dalam negeri.

Lonjakan signifikan stok beras ini, menurut Amran, adalah buah dari peningkatan produksi dalam negeri yang masif. Kondisi ini tidak hanya membebaskan Indonesia dari ketergantungan impor beras, yang dulunya mencapai angka fantastis 7 juta ton, tetapi juga memberikan dampak positif pada stabilitas harga pangan global.
"Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun," jelas Amran, menyoroti peran strategis Indonesia di kancah pangan internasional sebagai negara yang kini mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dan bahkan memengaruhi pasar global.
Meski demikian, Amran mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak boleh membuat lengah. Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan produksi tinggi, melainkan juga mengoptimalkan inovasi, terutama dari kalangan perguruan tinggi. Ia melihat potensi besar dalam riset kampus yang sayangnya masih kurang dalam hal hilirisasi dan pemasaran produk.
"Kelemahan kita di kampus adalah tidak mampu mengkomunikasikan apa yang kita ciptakan dan harus melihat pasar," kritik Amran, mendorong akademisi untuk lebih proaktif dalam membawa hasil riset ke ranah komersial dan industri.
Pemerintah, lanjut Amran, siap memberikan dukungan penuh dan menyerap inovasi-inovasi domestik. Syaratnya, kampus harus berani memproduksi dalam skala besar serta menjamin kualitas hasilnya. Ini adalah ajakan kolaborasi nyata antara pemerintah, akademisi, dan petani untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi di masa depan.





































