wartakini.id – Badai El Nino kini menghantam sektor pertanian Indonesia menyebabkan produktivitas anjlok drastis. Kondisi ini memaksa pemerintah mempertimbangkan opsi impor besar-besaran guna menjaga ketersediaan pangan nasional. Ancaman inflasi membayangi jika pasokan tak segera diamankan dari kelangkaan.
Baca Juga
Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama kementerian dan lembaga terkait bergerak cepat. Mereka memetakan wilayah-wilayah sentra pertanian yang paling terdampak El Nino di mana pasokan dan distribusi mulai terganggu. Rapat Koordinasi Terbatas atau Rakortas menjadi forum utama untuk mematangkan strategi pemenuhan stok termasuk keputusan krusial terkait pengadaan dari luar negeri.

Wakil Menteri Koordinator Pangan Hanif Faisol menegaskan bahwa keputusan impor tak akan tergesa-gesa. Analisis mendalam dari tim Rakortas menjadi landasan utama. "Inflasi harus kita kendalikan. Dampak El Nino terhadap produktivitas komoditas di seluruh Indonesia tentu signifikan," ujarnya di Jakarta menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga.
Sebagai respons cepat pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus. Tim ini bertugas menghitung ulang ketahanan pangan nasional khususnya pada komoditas yang paling rentan. Pekan depan semua otoritas pangan akan duduk bersama merumuskan skema intervensi paling efektif di lapangan.
Hanif menambahkan instrumen perdagangan internasional seringkali menjadi pilihan tak terhindarkan saat produksi domestik terganggu cuaca ekstrem. Curah hujan minim dan risiko kebakaran lahan saat ini menjadi pengingat penting untuk memperkuat ketahanan ekosistem pertanian jangka panjang.
"Kita tidak bisa hanya pasrah menerima El Nino sebagai takdir," kata Hanif. Ia menyerukan pentingnya membangun ketahanan lingkungan agar dunia usaha memiliki kepastian di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.





































