wartakini.id – Indonesia kini gencar menggenjot transisi energi demi mengukuhkan kemandirian energi bangsa sekaligus mengejar komitmen iklim global. Energi surya menjadi bintang utama dalam peta jalan pengembangan energi terbarukan di tanah air, menjanjikan potensi luar biasa untuk memperluas pasokan listrik dan memacu industri domestik. Namun, mengubah ambisi besar ini menjadi kenyataan membutuhkan sinergi kuat antara kerangka kebijakan, kesiapan industri, dan struktur pembiayaan yang mampu memikat investor kelas dunia.
Baca Juga
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari menegaskan bahwa target ambisius 100 gigawatt peak (GWp) ini bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah amanat kerja yang harus segera diwujudkan. Peluang investasi pun sudah terbuka lebar. "Target 100 GWp adalah mandat kerja langsung, dan peluang bagi investor sudah terbuka saat ini," ungkapnya, Sabtu (26/9/2026). Ia menambahkan, saat ini tersedia sejumlah proyek berskala besar, termasuk program Mentari 1 dan Mentari 2 yang menawarkan kapasitas hingga 2,7 GWp. Tak hanya itu, tender elektrifikasi pedesaan yang menyasar lebih dari 600 desa tahun depan juga siap digarap. "Kami secara aktif mencari mitra global untuk memobilisasi modal swasta dalam skala besar dan mengubah deretan proyek nyata ini menjadi kenyataan," ujarnya penuh semangat.

Membuka Gerbang Investasi Surya AS dan Global
Forum Investasi Surya Indonesia 2026 menjadi ajang strategis untuk mengupas tuntas bagaimana Indonesia bisa menempatkan portofolio energi suryanya sebagai daya tarik investasi yang tak tertandingi di kancah global. Diskusi mendalam mencakup keekonomian proyek, kepastian regulasi, tren teknologi terkini, hingga persyaratan krusial yang dicari investor internasional sebelum menanamkan modal. Forum ini berfungsi sebagai jembatan emas yang menghubungkan visi pembangunan Indonesia dengan harapan komersial para investor yang sedang membandingkan berbagai peluang di negara-negara berkembang. Bagi pengembang dan pemodal, ini berarti menyelaraskan potensi energi terbarukan dengan persiapan proyek yang kredibel dan insentif yang jelas.
Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York Tessal Febrian menyoroti peran penting insentif investasi di Indonesia. Melalui IIPC, investor dapat memperoleh pemahaman komprehensif mengenai berbagai fasilitas dan insentif yang tersedia untuk peluang investasi prioritas, termasuk di sektor energi terbarukan. Dengan mengurangi ketidakpastian seputar iklim investasi dan menyoroti dukungan yang ada, insentif ini melengkapi aspek fundamental komersial yang menjadi pertimbangan utama investor.
"Kami baru saja menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, yang dirancang khusus untuk menyederhanakan perizinan berusaha, mempercepat pengembangan industri, dan meningkatkan layanan bagi investor," jelas Tessal. Ia melanjutkan, "Indonesia juga menyediakan insentif fiskal menarik bagi investasi hijau, seperti tax allowance, pembebasan bea masuk, dan super tax deduction. Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa kebijakan energi surya akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan pasar."
Sementara itu, Wakil Presiden US-ASEAN Business Council Mario Masaya membawa perspektif pelaku usaha Amerika Serikat yang tengah mengevaluasi peluang di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Pernyataannya menekankan pentingnya kondisi yang memungkinkan partisipasi sektor swasta, meliputi kejelasan regulasi, keterlibatan publik-swasta yang intens, dan hubungan kerja sama yang solid dengan mitra lokal. "Bagi dunia usaha AS, ambisi surya Indonesia menciptakan peluang di berbagai lini mulai dari teknologi, infrastruktur, hingga layanan. Kebijakan yang jelas dan dialog publik-swasta yang berkelanjutan akan membantu perusahaan memahami di mana mereka dapat berkolaborasi dengan mitra lokal," pungkas Masaya.





































