wartakini.id – Ambisi besar Eropa untuk menciptakan tank tempur utama generasi terbaru Main Ground Combat System atau MGCS kini di ambang kegagalan. Proyek yang digadang-gadang sebagai tulang punggung pertahanan Benua Biru ini awalnya diharapkan mampu menggantikan tank legendaris Leopard 2 Jerman dan Leclerc Prancis. Namun sinyal bahaya mulai terlihat jelas dari analisis para ahli militer dan media internasional.
Baca Juga
Kebutuhan akan tank modern semakin mendesak sejak tahun 2015 pasca kemunculan tank T-14 Armata Rusia yang mengusung teknologi revolusioner. Konflik di Ukraina juga menjadi bukti nyata bahwa armada tank yang ada saat ini memerlukan pembaruan ekstensif agar mampu bersaing di medan perang kontemporer.

Saat ini kekuatan lapis baja Jerman dan Prancis berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Jerman hanya memiliki sekitar 300 unit tank Leopard 2 sementara Prancis kurang dari 200 unit Leclerc. Mengembangkan lini tank baru dari nol adalah beban finansial dan teknologi yang sangat berat bagi satu negara Eropa. Oleh karena itu MGCS menjadi harapan untuk menyatukan sumber daya industri pertahanan kedua negara raksasa ini.
Ironisnya hambatan utama yang membayangi proyek ambisius ini bukanlah kendala teknis yang rumit. Para analis militer dan media internasional sepakat bahwa akar masalahnya terletak pada perselisihan kepemimpinan antara Berlin dan Paris yang tak kunjung usai. Ini menjadi duri dalam daging bagi masa depan pertahanan Eropa.





































