wartakini.id – Pasar keuangan diguncang kabar mengejutkan hari ini. Nilai tukar Rupiah terperosok tajam terhadap dolar Amerika Serikat, ditutup melemah 32 poin atau sekitar 0,18 persen, mencapai level Rp17.794 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia yang baru saja menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Mengapa Rupiah justru loyo di saat BI menaikkan suku bunga?
Baca Juga
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa salah satu pemicu pelemahan ini datang dari sentimen eksternal. Optimisme global menyelimuti pasar setelah adanya kesepakatan antara AS dan Iran. Perjanjian tersebut diharapkan mampu meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur ekspor energi utama. Memorandum 14 poin itu memulai periode negosiasi 60 hari, dengan tujuan memulihkan lalu lintas bebas bea melalui Selat Hormuz ke kapasitas penuh dalam 30 hari. Kesepakatan ini memang berhasil meredakan kekhawatiran guncangan pasokan minyak dan inflasi energi, namun secara tidak langsung mengalihkan perhatian investor dari aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Di sisi lain, tekanan kuat juga datang dari kebijakan moneter ketat Federal Reserve AS. Meskipun bank sentral Amerika mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75 persen, sinyal kuat dari para pembuat kebijakan mengisyaratkan potensi pengetatan lebih lanjut di akhir tahun 2026. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi, sebuah perubahan signifikan dari ekspektasi awal tahun ini. Dalam pertemuan perdananya sebagai ketua The Fed, Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga dan mengendalikan inflasi. Kenaikan perkiraan inflasi oleh The Fed semakin mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga, yang pada akhirnya memperkuat dominasi dolar AS di pasar global.





































