Terungkap Alasan RI Sulit Tinggalkan Mobil Bensin

Author Image

Masih Lionel

17 Juli 2026, 17:06 WIB

wartakini.id – Sebuah riset global terbaru dari Deloitte mengungkap fakta mengejutkan di kancah otomotif Indonesia. Meski konsumennya semakin akrab dengan teknologi digital, ada paradoks menarik: loyalitas mereka terhadap jenis kendaraan tertentu justru menunjukkan kerapuhan yang tak terduga.

Studi "Deloitte 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives" yang melibatkan lebih dari 6.000 responden dari enam negara, termasuk seribu lebih warga Indonesia, menemukan anomali unik. Minat masyarakat Tanah Air terhadap kendaraan bermesin konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE) merosot tajam hingga tujuh persen poin dari tahun sebelumnya, menjadikannya penurunan paling drastis di Asia Tenggara.

Terungkap Alasan RI Sulit Tinggalkan Mobil Bensin
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Kontras dengan tren regional, negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam justru menyaksikan peningkatan ketertarikan pada ICE. Indonesia seolah berjalan sendirian, menentang arus dominan di kawasan.

Namun, terlepas dari pergeseran ini, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari separuh atau 55 persen konsumen Indonesia masih teguh memilih kendaraan bertenaga bensin.

Sementara itu, daya tarik kendaraan hibrida dan listrik memang meningkat signifikan, mencapai 42 persen. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga di Asia Tenggara, hanya kalah dari Thailand dan Singapura. Namun, mayoritas konsumen belum sepenuhnya beralih.

Lantas, apa sebenarnya yang menghambat laju adopsi kendaraan energi baru (NEV) di Indonesia? Studi Deloitte mengidentifikasi tiga kendala utama yang membayangi minat konsumen:

  1. Kekhawatiran seputar ketersediaan dan aksesibilitas stasiun pengisian daya.
  2. Faktor biaya kepemilikan yang masih dianggap tinggi.
  3. Kesiapan infrastruktur pendukung yang belum merata untuk ekosistem NEV.

Aspek infrastruktur pengisian daya menjadi sorotan utama yang menyingkap kesenjangan paling jelas. Mayoritas, yakni 61 persen calon pembeli NEV, sangat berharap dapat mengisi daya kendaraan mereka langsung di kediaman pribadi.

Related Post