wartakini.id – Toyota dikabarkan mengincar Neta Auto, perusahaan otomotif listrik China yang tengah berjuang finansial. Langkah ini dinilai strategis bagi Toyota untuk menguasai pasar mobil listrik di Negeri Tirai Bambu. Namun, benarkah kabar ini?

Related Post
Neta Auto, yang didirikan pada 2014 oleh Hozon New Energy Auto, mengalami krisis keuangan sejak 2024. Kondisi ini memaksa mereka menghentikan produksi dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran. Upaya pencarian investor pun dilakukan demi menyelamatkan perusahaan.

Kegagalan pendanaan Seri E pada Februari 2025 senilai 552-621 juta dolar AS menjadi pukulan telak. Investor utama, yang didukung dana negara BRICS, menarik diri setelah produksi terhenti akibat kekurangan suku cadang. Akibatnya, valuasi perusahaan anjlok hingga 80 persen.
Kondisi keuangan Neta semakin memburuk. Mereka mencatatkan kerugian kumulatif 18,3 miliar yuan (2,53 miliar dolar AS) selama tiga tahun dan memiliki utang kepada pemasok sebesar 6 miliar yuan (828 juta dolar AS). Neta bahkan mengusulkan konversi 70 persen utang menjadi ekuitas, dengan risiko gagal bayar upah dan asuransi sosial jika tak mendapat suntikan dana segar.
Meski terlilit masalah, Neta masih memiliki nilai teknologi dan pangsa pasar. Pada Maret 2025, mereka berhasil mendapatkan perjanjian utang-untuk-ekuitas senilai 2 miliar yuan (276 juta dolar AS) dari 134 pemasok utama, serta dukungan finansial dari lembaga Thailand dan Solotech dari Hong Kong.
Jika akuisisi terjadi, Toyota berpotensi memanfaatkan aset dan pengetahuan lokal Neta untuk mempercepat penetrasi pasar mobil listrik di China. Namun, Direktur Komunikasi Merek Toyota China, Xu Yiming, membantah kabar tersebut. "Kami belum mendengar apa pun tentang ini!" tegasnya. Apakah ini hanya strategi negosiasi atau sekadar isu belaka? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.









Tinggalkan komentar