Di tengah desakan kuat untuk mengutamakan produk dalam negeri, Agrinas mengklaim bahwa industri otomotif domestik kesulitan memenuhi tenggat waktu dan kuota yang dibutuhkan hingga tahun 2026. Pihak Agrinas beralasan, mereka telah mengundang seluruh representasi produsen lokal di Indonesia untuk menyuplai armada bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun, negosiasi tersebut berujung pada jalan buntu.

Related Post
Joao Angelo De Sousa Mota, Chief Executive Officer (CEO) Agrinas, menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata telah menyedot habis lini produksi pabrikan lokal, menciptakan efek "leher botol" atau kemacetan produksi yang parah. Kondisi ini, menurutnya, tercermin dari rincian penawaran yang diterima Agrinas dari berbagai produsen lokal:

-
Grup Astra (Isuzu & Toyota): Menurut klaim Joao, Isuzu hanya mampu menyuplai 900 unit. Kendala utama adalah ketersediaan karoseri lokal yang telah penuh dipesan oleh merek lain. Negosiasi untuk Isuzu Traga 4×4 juga gagal mencapai kesepakatan dengan diler. Di kubu Toyota, harga untuk model Hilux 4×4 dan 4×2 tidak menemui titik temu, dengan kapasitas maksimal hanya 800 unit yang bisa dipenuhi antara April hingga Mei 2026. Untuk model Hilux Rangga, Toyota hanya sanggup memproduksi secara inden sebanyak 400 unit per bulan, dengan patokan harga varian 4×2 yang diklaim 25 persen lebih mahal dari kompetitor.
-
Mitsubishi & Hino: Mitsubishi Fuso menjadi pengecualian positif dengan menyepakati suplai 20.600 unit truk roda 6 yang akan diselesaikan hingga akhir tahun. Namun, penawaran Mitsubishi L300 terbatas pada kapasitas 750 unit per bulan, di mana harganya diklaim Agrinas hampir sama persis dengan harga pikap 4×4 impor asal India yang akhirnya menjadi pilihan. Hino, awalnya hanya sanggup memproduksi 120 unit per bulan, namun setelah melobi prinsipal di Jepang, angka maksimalnya berhasil ditingkatkan menjadi 10.000 unit.
Dengan kondisi pasar domestik yang dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan masif dan mendesak ini, Agrinas merasa tidak memiliki pilihan lain selain beralih ke produsen luar negeri, seperti Tata dan Mahindra dari India, untuk memenuhi kebutuhan armada KDKMP. Keputusan ini diambil demi memastikan kelancaran program yang dicanangkan.










Tinggalkan komentar