Menkeu Purbaya Ungkap Sisi Lain Lebaran Perdana: Susah Tidur, Tapi ‘Bonus’ Melimpah!

Related Post
wartakini.id, JAKARTA – Lebaran tahun 2026 menjadi momen yang sangat berbeda bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Untuk pertama kalinya menjabat sebagai pimpinan tertinggi Kementerian Keuangan, Purbaya mengakui ada beban pikiran yang lebih berat hingga kadang membuatnya susah tidur. Namun, di sisi lain, ia merasakan kebahagiaan dan ‘bonus’ yang lebih banyak dari pengabdiannya.

Berbicara di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Sabtu (21/3/2026), Purbaya tidak menampik tantangan besar yang menyertai jabatannya. "Pertama jadi Menteri ya… Lebih berat daripada biasanya. Kalau malam santai aja masih mikir gitu. Kadang-kadang susah tidur," ungkapnya jujur, menggambarkan tanggung jawab besar dalam mengelola keuangan negara yang kini berada di pundaknya.
Meski demikian, di balik tantangan tersebut, Purbaya justru merasakan kepuasan yang lebih mendalam. "Tapi lebih senang. Bonus lebih banyak," tambahnya, mengindikasikan bahwa pengabdian dan dampak positif dari pekerjaannya memberikan imbalan non-materi yang jauh lebih berharga daripada sekadar kenyamanan tidur.
Di tengah padatnya jadwal dan beban pikiran, Purbaya tetap meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga. "Semalam live TikTok sama anak saya, saya main sama dia lah," ceritanya, menunjukkan sisi humanis seorang menteri yang tetap dekat dengan keluarganya, mencari keseimbangan di tengah tuntutan pekerjaan negara.
Selama bulan Ramadan, Purbaya juga aktif meninjau kondisi pasar, dengan dua kunjungan tercatat di Pasar Tanah Abang, Jakarta, dan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Ia mengapresiasi kualitas produk domestik yang dinilainya sangat kompetitif dan diminati oleh banyak pembeli, menunjukkan geliat ekonomi lokal yang positif.
Namun, di balik ramainya transaksi dan optimisme terhadap produk lokal, Purbaya juga menemukan realitas pahit. Banyak pedagang kecil masih tercekik utang masa lalu, warisan dari dampak pandemi yang belum sepenuhnya pulih. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pemulihan ekonomi yang lebih inklusif dan berpihak pada pelaku usaha mikro.









Tinggalkan komentar