wartakini.id – Sebuah kejutan besar mengguncang industri otomotif global. Dua konglomerat teknologi dan otomotif Jepang, Sony dan Honda, secara resmi mengumumkan penghentian proyek mobil listrik ambisius mereka, Afeela. Keputusan ini bukan sekadar pembatalan produk, melainkan cerminan pahit dari realitas pasar kendaraan listrik (EV) global yang bergejolak di tahun 2026. Prototipe mobil listrik canggih Afeela yang sempat memukau publik, kini hanya tinggal kenangan setelah Sony dan Honda resmi menghentikan kerja sama mereka.

Related Post
Apa yang awalnya digadang-gadang sebagai revolusi mobilitas, kini harus kandas di tengah jalan. Pasar otomotif global tahun 2026 memang menunjukkan dinamika yang sangat menantang. Pergeseran preferensi konsumen yang cepat, tekanan regulasi yang berubah-ubah, serta ketidakpastian geopolitik, telah memaksa banyak pabrikan untuk merombak total strategi elektrifikasi mereka. Bahkan kolaborasi antara raksasa elektronik dan penguasa jalanan pun tak luput dari hantaman badai ini.

Proyek Afeela sendiri lahir dari visi besar yang diwujudkan melalui perusahaan patungan Sony Honda Mobility (SHM) pada tahun 2022. Dunia sempat dibuat terkesima oleh purwarupa konsep sedan futuristik Sony yang dipamerkan di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2020, diikuti oleh konsep SUV yang tak kalah menarik pada tahun 2021. Dengan desain inovatif dan integrasi teknologi canggih, Afeela diproyeksikan menjadi ikon baru di segmen mobil listrik premium.
Rencana peluncuran pun sudah matang. Tipe Signature Afeela, dengan banderol harga fantastis USD102.900, dijadwalkan akan mulai dikirimkan kepada konsumen pada akhir tahun ini. Menyusul kemudian adalah tipe Origin yang lebih terjangkau, seharga USD89.900, dengan debut yang direncanakan pada tahun 2027. Namun, semua jadwal dan harga tersebut kini hanya tinggal catatan sejarah, menjadi saksi bisu ambisi yang tak terwujud.
Penghentian Afeela menjadi pengingat keras bahwa inovasi saja tidak cukup. Kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar yang fluktuatif, memahami perubahan selera konsumen, dan menavigasi lanskap politik yang kompleks adalah kunci keberhasilan di era elektrifikasi. Kegagalan proyek ini mungkin akan menjadi studi kasus penting bagi industri otomotif global dalam menata ulang strategi mereka ke depan.
Follow WhatsApp Channel wartakini.id untuk Berita Terbaru Setiap Hari.










Tinggalkan komentar