Blackout Sumatera: Kenapa Pemulihan Listrik Tak Bisa Buru-buru? Ini Kata Ahli!

Author Image

Masih Lionel

25 Mei 2026, 16:02 WIB

wartakini.id – Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pasca-gangguan interkoneksi yang menyebabkan pemadaman luas, ternyata mengadopsi pola penanganan serupa dengan insiden blackout besar di berbagai belahan dunia. Pendekatan yang diutamakan adalah stabilitas sistem melalui tahapan recovery yang dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan terukur, demikian diungkapkan oleh Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov.

Abra menjelaskan, pengalaman global menunjukkan bahwa gangguan pada sistem interkoneksi modern dapat dengan cepat berkembang menjadi cascading failure atau efek domino. Ini terjadi ketika frekuensi sistem anjlok dan keseimbangan antara pasokan listrik dengan beban terganggu, memicu kerusakan berantai yang sulit dikendalikan.

Blackout Sumatera: Kenapa Pemulihan Listrik Tak Bisa Buru-buru? Ini Kata Ahli!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pola serupa, menurutnya, telah teramati dalam berbagai kasus blackout masif di sejumlah negara, mulai dari Amerika Serikat, India, Spanyol, Inggris, hingga Australia Selatan. Semua insiden tersebut memiliki benang merah yang sama: dipicu oleh gangguan transmisi atau ketidakstabilan dalam sistem interkoneksi yang kompleks.

"Dalam sistem interkoneksi berskala besar, tantangan paling signifikan justru seringkali muncul selama fase pemulihan. Operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan sinkronisasi antar pembangkit tetap stabil agar sistem yang mulai pulih tidak kembali jatuh," tegas Abra.

Ia menyoroti blackout Amerika Utara pada tahun 2003 yang meluas menjadi gangguan sistemik, menyebabkan lebih dari 100 pembangkit terlepas dari jaringan. Sementara di India pada 2012, gangguan interkoneksi membesar akibat ketidakseimbangan beban antarwilayah. Adapun di Spanyol dan Portugal, proses pemulihan juga dilakukan bertahap untuk menjaga kestabilan sistem setelah lonjakan tegangan memicu pemadaman besar di Semenanjung Iberia. Pola serupa turut terjadi di Pakistan dan Turki, di mana operator sistem harus melakukan sinkronisasi pembangkit secara cermat guna mencegah gangguan lanjutan saat menyalakan kembali jaringan listrik.

Menurut Abra, pengalaman global menegaskan bahwa fase recovery seringkali menjadi tahapan paling krusial. Kesalahan dalam sinkronisasi saat menyalakan kembali pembangkit dapat memicu gangguan susulan, bahkan berpotensi menyebabkan blackout kedua yang lebih parah.

"Jika sinkronisasi dilakukan terlalu cepat sementara sistem belum sepenuhnya stabil, pembangkit bisa kembali trip dan memicu gangguan lanjutan. Oleh karena itu, operator biasanya sangat berhati-hati selama proses pemulihan," pungkasnya dalam keterangan tertulis kepada wartakini.id.

Related Post