Wartakini.id, Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat merespons maraknya peredaran beras oplosan di pasaran dengan meminta para peritel untuk menurunkan harga beras hingga Rp1.000 per kilogram. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk menghindari kelangkaan beras yang dapat meresahkan masyarakat.

Related Post
Bapanas telah secara resmi mengirimkan surat imbauan kepada Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dengan nomor surat 589/TS.02.02/B/07/2025. Surat tersebut menekankan pentingnya bagi para peritel untuk tetap melanjutkan penjualan beras seperti biasa, dengan tetap menjual stok yang ada di gudang maupun yang sudah dipajang di rak penjualan.

"Tujuannya agar tidak terjadi shortage di lapangan. Beras-beras ini sebenarnya masih layak konsumsi, hanya saja tidak sesuai antara kualitas isi dengan kemasannya. Oleh karena itu, harganya harus disesuaikan dengan kualitas beras yang ada di dalamnya. Dari hasil pengamatan dan pengecekan di lapangan, kami merekomendasikan penurunan harga sekitar Rp1.000," tegas Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, di Jakarta, Rabu (30/7/2025).
Arief menjelaskan bahwa pemerintah, bersama dengan Satgas Pangan Polri, mengambil langkah ultimum remedium untuk menjaga stabilitas stok beras di pasar. Hal ini dilakukan untuk mencegah kepanikan masyarakat (rush) yang dapat berujung pada kekosongan stok beras. Penyesuaian harga oleh pelaku usaha ritel sangat diharapkan untuk segera diimplementasikan.
"Beras yang sudah dijual, yang sudah ada di rak-rak toko, yang sudah ada di pasar, jangan ditarik kembali. Kalau ditarik, justru akan menimbulkan kekosongan dan menyulitkan masyarakat untuk membeli. Kualitas beras ini sebenarnya masih baik, hanya saja tingkat broken (pecah) nya yang tinggi. Karena itu, kami meminta agar harganya disesuaikan. Dengan begitu, konsumen tetap bisa membeli beras sesuai dengan kualitas yang ada," pungkasnya.










Tinggalkan komentar