wartakini.id – Kabar gembira datang dari pasar keuangan nasional nilai tukar rupiah berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia mengambil langkah tegas menaikkan suku bunga acuannya menjadi 550 persen. Mata uang Garuda melonjak 129 poin atau 071 persen kini berada di level Rp18085 per USD sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.
Baca Juga
Namun di balik euforia penguatan ini ada peringatan serius yang tak boleh diabaikan. Anjloknya rupiah yang sempat menyentuh angka psikologis Rp18000 per USD beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa. Fokus utama kini harus bergeser pada penguatan fundamental ekonomi domestik demi menjaga stabilitas jangka panjang.

Direktur Eksekutif Lingkar Pemuda Indonesia Akhrom Saleh pada Selasa 9 Juni 2026 menegaskan tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana melindungi daya beli masyarakat di tengah gejolak ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Bersamaan dengan itu kepercayaan investor juga harus tetap terjaga. "Kita sedang dalam fase krusial pemerintah berupaya keras bertransformasi dari ketergantungan modal asing menuju kemandirian pembiayaan nasional" ujar Akhrom Saleh.
Lebih lanjut Akhrom Saleh menyoroti keputusan berani Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang secara tegas menolak tawaran pinjaman fantastis senilai USD20 miliar hingga USD30 miliar dari IMF dan Bank Dunia. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN dinilai sangat kokoh ditopang oleh Saldo Anggaran Lebih SAL yang mencapai Rp420 triliun.
"Pemerintah saat ini sedang membangun kedaulatan ekonomi bangsa dan ini harus kita dukung penuh. Menurut saya langkah Pak Purbaya sangat tepat dan visioner. Dengan menolak utang dari lembaga moneter internasional ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi ingin didikte atau diatur oleh pihak luar" pungkas Akhrom Saleh. Ini adalah sinyal kuat kemandirian finansial Indonesia di panggung global.





































