wartakini.id – Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed kembali menyoroti ancaman inflasi yang masih membayangi perekonomian negara adidaya itu. Catatan rapat Komite Pasar Terbuka Federal FOMC yang dirilis baru-baru ini mengindikasikan para pembuat kebijakan tetap waspada terhadap tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga
Dokumen tersebut merangkum hasil pertemuan penting pada pertengahan September 2026 yang menghasilkan keputusan kenaikan suku bunga acuan menjadi 3,75 hingga 4,00 persen. Mayoritas petinggi The Fed juga mengisyaratkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan sebelum akhir tahun. Sikap ini dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen. Namun keputusan selanjutnya tidak bersifat mutlak dan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi terkini gejolak geopolitik serta kalkulasi risiko yang dinamis.

Menanggapi situasi ini Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menekankan pentingnya bagi investor untuk mencermati dinamika pasar secara komprehensif. Ia mengingatkan agar tidak hanya berpegang pada satu keputusan atau indikator tunggal dalam menganalisis pergerakan pasar kripto. "Catatan rapat FOMC memang menunjukkan inflasi masih menjadi perhatian utama The Fed. Namun fluktuasi aset kripto merupakan hasil interaksi beragam faktor mulai dari likuiditas pasar global kondisi makroekonomi kerangka regulasi hingga karakteristik unik setiap aset digital itu sendiri. Oleh karena itu investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi saja" ujarnya di Jakarta pada Kamis 8 Oktober 2026.
Menjelang rapat FOMC berikutnya yang dijadwalkan pada akhir Oktober perekonomian AS masih menunjukkan pertumbuhan yang solid dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Bagi para investor pergeseran ekspektasi suku bunga tetap krusial untuk diperhatikan. Hal ini karena dapat berdampak signifikan pada ketersediaan likuiditas dan selera risiko investor terhadap aset-aset berisiko seperti kripto. Pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi guna memperoleh arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Di tengah gejolak global Otoritas Jasa Keuangan OJK mencatat pertumbuhan impresif di pasar domestik. Jumlah investor aset digital dan kripto di Indonesia telah menyentuh angka 23,21 juta pada Agustus 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 1,23 persen dibandingkan bulan Juli sebelumnya.





































