wartakini.id – Bank Indonesia (BI) dengan tegas menanggapi keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. BI memastikan bahwa penyesuaian ini sama sekali tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional yang tetap solid di tengah gejolak global.

Related Post
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Alexander Lubis, dalam pernyataannya di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Jumat (6/2/2026), menekankan ketahanan ekonomi Indonesia. "Meskipun kinerja global penuh ketidakpastian dan tekanan penurunan, ekonomi kita masih solid. Konsumsi dan investasi tetap terjaga," ujarnya.

Lubis menambahkan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 dinilai masih terjaga dengan baik. Lebih lanjut, rasio permodalan sistem keuangan nasional (SSK) berada pada level yang sangat tinggi, menunjukkan stabilitas yang kuat. "SSK tentu kami melihat bahwa apa yang disampaikan (oleh Moody’s) belum mencerminkan kondisi fundamental SSK. Rasio permodalan kita sangat tinggi," jelasnya.
Meski demikian, Alex mengakui perlunya menjaga beberapa aspek di tengah volatilitas global yang diprediksi akan terus berlanjut sepanjang tahun ini. Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil. "Kami terus menjaga risiko kredit yang saat ini masih jauh di bawah indikator. Jadi, apa yang terjadi ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Kondisi Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) bahkan sangat baik, kami sering bilang sangat robust. Ke depan, ini menjadi modal kita untuk menghadapi volatilitas global," pungkasnya.
Perlu diketahui, keputusan Moody’s Ratings untuk mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2 namun memangkas outlook menjadi negatif didasarkan pada kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Namun, BI bersikukuh bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh dan siap menghadapi tantangan global.








Tinggalkan komentar