wartakini.id – Sebuah gebrakan berani dilancarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang secara terang-terangan menyatakan tidak ambil pusing dengan penilaian dari lembaga pemeringkat global sekelas S&P Global Ratings atau Moody’s. Sikap tegas ini muncul seiring langkah strategis pemerintah mendiversifikasi sumber pendanaan melalui penerbitan Panda Bond di pasar modal Tiongkok.
Baca Juga
Keputusan untuk merambah pasar finansial Beijing dan Shanghai ini bukan tanpa alasan. Menurut Purbaya, penetrasi ke pasar Tiongkok secara otomatis akan tunduk pada sistem evaluasi dari agensi pemeringkat domestik negara tersebut. Ini adalah manuver taktis untuk melepaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN dari jerat ketergantungan pada pasar obligasi global konvensional yang selama ini didominasi oleh para investor berorientasi dolar Amerika Serikat.

"Jika pun nanti ada peringkat yang keluar dari sana, saya bisa tidak peduli," tegas Purbaya dalam sebuah sesi jumpa pers. Ia menambahkan, "Mengapa saya harus terus menerbitkan obligasi dolar lagi untuk sementara waktu?" Pernyataan ini mengindikasikan pergeseran fokus yang signifikan dalam strategi pembiayaan negara. Saat dikonfirmasi apakah "sana" yang dimaksud merujuk pada S&P, Purbaya hanya menjawab singkat, "Ya gitulah."
Purbaya tak segan melontarkan kritik pedas terhadap metodologi penilaian lembaga pemeringkat internasional. Ia menilai, mereka kerap kaku dan cenderung menutup mata dari fakta kemajuan ekonomi riil yang terjadi di Indonesia. "Dugaan saya, bukan hanya S&P. Mereka sudah memiliki pola pikir tertentu yang membuat mereka enggan melihat realitas di lapangan. Saya tidak bisa mengubah itu," ungkapnya.
Kementerian Keuangan berpandangan, fondasi ekonomi yang kokoh, rasio kepatuhan utang yang sehat, serta postur anggaran yang terjaga baik seharusnya menjadi instrumen evaluasi utama yang objektif. "Mereka melihat apakah kita mampu membayar utang, fiskalnya seperti apa. Sudah fiskalnya bagus, mereka malah bilang apa? ‘Ya, tapi kan ada ketidakpastian di pasar’. Saya juga tahu itu. Seharusnya kan dilihat kondisi sebenarnya. Itu yang saya masih kurang mengerti," keluhnya.
Atas dasar hambatan persepsi itulah, pemerintah memilih untuk merangkul ekosistem pasar keuangan Tiongkok. Pasar ini dinilai memiliki parameter pendekatan risiko yang lebih adil dan adaptif. Terbukti, karakteristik investor di Negeri Tirai Bambu tersebut tidak terlalu terpaku pada predikat dari S&P maupun Moody’s. Sebaliknya, mereka lebih mempercayai sertifikasi peringkat dari lembaga pemeringkat lokal Tiongkok sebelum memutuskan untuk mengoleksi aset Panda Bond. "Investor di Tiongkok tidak terlalu terpengaruh oleh rating dari S&P, Moody’s, dan lainnya. Mereka akan melihat pemeringkat dari Tiongkok seperti apa. Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari Tiongkok," pungkas Purbaya.





































