Rupiah Menggila Dolar AS Tersungkur

Author Image

Masih Lionel

25 September 2026, 16:02 WIB

wartakini.id – Mata uang Garuda menunjukkan kekuatannya di tengah gejolak pasar global Jumat lalu. Rupiah berhasil menorehkan kenaikan signifikan, menutup perdagangan di level Rp17.903 per dolar Amerika Serikat. Lonjakan 13 poin atau sekitar 0,07 persen ini menjadi sorotan, memicu pertanyaan tentang faktor-faktor pendorong di balik performa impresif tersebut.

Kabar positif dari arena geopolitik menjadi salah satu pemicu utama. Negosiator Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah berupaya mencari solusi bertahap atas konflik yang berlarut-larut. Pembicaraan di New York mengisyaratkan kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz, diiringi janji Washington untuk melonggarkan blokade ekonomi. Presiden Iran sendiri menegaskan bahwa akhir konflik sepenuhnya berada di tangan AS. Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah Arab Saudi berhasil menghalau enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi Yaman, mencegah serangan di Taif dan Yanbu.

Rupiah Menggila Dolar AS Tersungkur
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Sentimen positif juga datang dari hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memastikan Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang jeda perang dagang mereka hingga 10 Januari 2027. Kesepakatan ini terjalin setelah Presiden Trump menjamu pemimpin Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Washington dalam lebih dari satu dekade. Dalam pertemuan bersejarah itu, kedua pemimpin menggarisbawahi kecerdasan buatan atau AI sebagai topik pembahasan utama, menandakan fokus pada kolaborasi teknologi.

Meski demikian, pasar juga diwarnai oleh sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve AS. Presiden The Fed New York John Williams secara terbuka menyatakan pentingnya mengembalikan inflasi ke tingkat target dalam waktu yang tepat, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Senada, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa inflasi yang berlarut-larut akan semakin mempersulit upaya penurunannya. Ditambah lagi, data ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang tak terduga. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Komposit S&P Global AS melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun, mencapai 58,4 pada September. Angka klaim awal tunjangan pengangguran AS juga menurun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September, lebih baik dari perkiraan pasar 201.000.

Related Post