wartakini.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, bahkan nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh sentimen eksternal yang memanas, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memuncak.
Baca Juga
Data pasar menunjukkan, pada hari ini, rupiah melemah signifikan sebesar 70 poin atau sekitar 0,39 persen, bertengger di posisi Rp17.871 per dolar AS. Kondisi ini memperpanjang tren pelemahan yang telah terjadi sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya mengungkapkan bahwa sentimen negatif utama datang dari laporan pada Senin malam yang menyebutkan AS telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Militer AS mengklaim tindakan tersebut sebagai "pembelaan diri" meskipun gencatan senjata dengan Iran disebut masih berlaku.
"Respons Teheran terhadap permusuhan baru ini belum segera jelas. Namun, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," jelas Ibrahim.
Aksi militer ini secara signifikan menutupi kabar baik sebelumnya yang menyatakan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak, yang sempat turun tajam pada Senin setelah laporan kesepakatan tersebut, kini kembali dibatasi penurunannya oleh ketidakpastian di lapangan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Senin juga mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, bahkan mengklaim Republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Namun, Iran membantah rencana tersebut, meski laporan menunjukkan negara itu terbuka untuk negosiasi lebih lanjut terkait aktivitas nuklirnya. Ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik ini terus menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan rupiah di pasar keuangan global.




